Rabu, 12 Agustus 2009

To BE A NEWS FAN



Nie, temend2 aku punya pertanyaan skaligus jawaban yang aku jawab sendiri. sebenarnya pertanyaan2 itu aku dapat dari sebuah forum (berbahasa Inggris) yang kemudian aku artikan)

To be a NEWS Fan…………..
1. Dapatkah kamu mengingat nama anggota news secara komplit?

Yamashita Tomohisa
Ryo Nishikido
Shigeaki Kato
Yuya Tegoshi
Masuda Takahisa
Keiichiro koyama

2. Bagaimana dengan X membernya?
Kusano Hironori
Hiroki Uchi

3. Kurang satu!!!
Moriuchi?

4. Ceritakan awal pertemuan mu dengan NEWS?
Aku menemukan YamaPi di dorama sebagi makhluk aneh bernama Akira, dan aku suka dengan gaya Kon-kon nya itu!!^^ kemudian aku mencari sesuatu tentang YamaPi dan.. ya.. aku kini tahu YamaPi adalah leader dari NEWS (sebetulnya masih tidak yakin kalo orang seperti YamaPi menjadi seorang Leader)^0^

5. Apa kesan pertama mu setelah melihat NEWS?
Kawaiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii ^___^V

6. bagaimana kau bisa suka NEWS?
Setelah melihat kegokilan mereka berenam dalam setiap performance. Tidak hanya itu,, persahabatan seluruh personil NEWS lah yang membuat ku menyukai mereka semua. Juga kekompakan yang mereka miliki.

7. point terkuat yang dimiliki oleh NEWS untuk Johnny apa?
Expecially YamaPi (yang lain juga kok) ^^v

8. Apa kamu mendengarkan lagu NEWS sekarang?
LhoH kok tau?
Judulnya?
KOI no ABO donk!!!! gokilllll

Music Related

9. Apakah kau menikmati musik2 NEWS?
Ya ialah! Masa’ ya ea dong!!!

10. Sebutkan 5 lagu Fav dari NEWS!
Sayaendo,
Koi No ABO,
snow exspress,
happy birthday,
I za na I zu ki (sebetulnya masih banyak T__T)

11. Lagu solo fav ?
Gomen nee Juliet dong!!!

12. Jenis musik apa yang pantas dinyanyikan oleh NEWS?
Dangdut??? Kyak Ridho Rhoma getuuu.. wkokokokokok!!!!..

13. Lagu Jepang apa yang pengen kamu denger setelah di recover ama NEWS?
Nggak mau!!! NEWS harus nyanyiin lagu mereka sendiri dong!!

14. Lagu non Jepang nya?
Begadang 2 ^^V

15. Bisa menyanyikan seluruh lagu2 NEWS?
Insya Allah………

16. Bagaimana kamu mendapatkan seluruh lyric lagu NEWS?
Internet!!!! Pendengaran sendiri terus ditulis.

17. Lyric yang paling disukai?
Alibi nya Koyashige… hahaghags gokil banget!!!, KOI no ABO, juga

18. Anggota Fav?
PiGhe.. (yamaPi Shige)

19. Anggota NEWS yang paling tidak disuka?
Ummm, Pertanyaan ini harus di isi ya???

20. paling suka couple siapa diantara NEWS?
>Ryopi
>Tegomass
>KoyaShige ^^v

21. siapa yang paling modis di NEWS?
Ryo : coz pakek baju apapun pantes gitu..

22. Hairstyle terbaik?
YamaPi dong : apalagi waktu jadi Akira! Cucok bener tuwh model rambut!
Shige : gaya rambutnya yang jambul keatas melulu, juga keren abiz dech.

23. Suara terbaik?
Aku suka suara YamaPi, khas banget gitu, n Shige yang serak serak ngeden itu! Tegoshi juga suaranya melengking ke atas. Hahaghagz..

24. Suara terburuk ?
Koyama dan Massuda : loe tau kan suara mereka berdua hampir sama!!!

26.Gambar News yang mana yang kamu sukai dalam majalah atau yang lainnya?
Semuuuuuanya

27. Gambar yang sendirian?
Sudah ku katakan aku suka semuanya!!!

28. Fav. CD cover?
WEEEEk dong!! Mereka berenam tampak seperti orang2 yang sukses gitu!, bukan tepatnya bisnisman!!!

29. Fav DVD?
Semuanya!!!N.E.W.S
Member Related

30..Jika anggota NEWS adalah guru disekolahanmu, mereka pantesnya jadi guru apa?
Keichiro : Guru bahasa Indonesia (dya kan seneng nampang, n PD nya ruuarrrr binasssaaaa!!! Wkokokok!!
Masuda : kalo ada, guru tata boga!! Dia akan mengajarkan semua murid2nya makan dengan benar hloh
Tegoshi :Guru Sejarah, Ekonomi, pokoknya untuk kelas IS lah!! (biar semua murid2nya nggak pada ngantuk!) Kyaaaaa… dya kan cuttttttttttteeeeeeee abissssssss…
Shige : Kyaaaaaa….semua pelajaran untuk kelas IA, IQ nya paling tinggi ketimbang anag2 NEWS yang laen. plus pel. Musik (ngarep berat pengen liat aksi Shige maen Gitar!)
YamaPi : Guru Olahraga dan guru bahasa asing. (aku bakalan pamer kepada semua tetanggaku dirumah. Kyaaa.. pak guru ku ganteng banget)
Ryo : Guru seni lukis dan keterampilan (cowok melankolis seperti dia kayaknya cucok dech!)
Kusano: Guru technologi.. kayaknya keren dech!!!
Uchi: Guru Ballet????
Moriuchi: ga tau..

31. Jika personil NEWS diminta untuk bermain peran dalam Naruto Live Action, mereka pantesnya jadi siapa?
YamaPi: Naruto(Gokil, banyak ulah, berantakan dll….)
Ryo: Sasuke(Pelit senyum, tapi pinter!! Soulmatenya YamaPi!, kayak Naruto yang soulmate-an ama Sasuke)
Tegoshi: Sakura or Hinata???
Masuda: Chouji (Versi. Super imut!!!)
Shige: Shikamaru(Sama2 pinter, sama2 punya taktik jitu, sama2 punya jambul keatas)
Keiichiro: Guru Gay(Suka nampang!!!)
Kusano: Rock lee(sangat bersemangat dan percaya diri!)
Uchi: sebenarnya aku nggak tega ngomongnya, tapi… aku meresa Uchi cocok jadi Orochimaru dech. ^^(sama2 berbedak tebal)

32. jika warna aura dari personil news dapat dilihat, warna apa yang bakalan muncul dari mereka?
YamaPi : Warna-warni (mijikuhibiniu)
Shige: Hijau
Yuuya : Pink
Massuda : Blue kalem.
Keichiro: Kuning
Ryo : Coklat
Kusano : Merah
Uchi : Ungu
Moriuchi: Hitam

33. Ciptakan lah Keluarga NEWS yang Ideal!.
Suami : Ryo-chan
Istri : Keichiro
Anak laki2 sulung : YamaPi
Anak laki2 bungsu : Shige
Anak perempuan : Massu
Simbah laki2 : Kusano (duda)
Simbah cewek : Moriuchi (Almr)
Inem Pelayan seksi : Uchi
Binatang peliharaan yang super imut : Tegoshi

34. Pakaian/kostum yang pantes buat mereka?
Yamapi: Netralnya aku suka Pi pake Jas kayak di PV nya WEEEK.
Ryo: Pakek gakuran anak2 SMA jepun keren deh!!!
Shige: Apa ajah cocok kok ... yang penting ditambah aksesoris guitar kalo perlu yang bertemakan anak2 band gtu
Masu: baju dan celana yang ekstra kedodoran.
Tegoshi: Bikini......
Keiichiro: baju2 tebel biar nga keliatan kurusnya... :-p
Kusano: Kimono cowo kakoi nee…. …
Uchi: pakai gaun pengantin…. Hehehe..

35. Personil NEWS kamu sebagai ?
My Husband : YamaPi
My 2 Husband :Shige
Best Friend 4 ever : Ryo
Teman sekelasku : Massu
Penggemar rahasiaku yang suka nulis2 puisi romantis (ngarep mode on) : Tegoshi
Kakak sepupu : Uchi
Teman diskusi :Kusano
Tetangga ku : Keichan

36. Binatang yang cocok dilambangkan dengan anggota NEWS?
YamaPi : dog (dya pecinta anjing kan?) Babi (As kusano Akira)
Ryo : Kuda (mempunyai wibawa yang tinggi tangguh, kuat, cieeee.. cieeee)
Massu : Panda (entah kenapa seolah2 wajah massu mirip banget ama panda)
Tegoshi : Kelinci dan kucing (kawaiiiiii!!!!)
Keichan : Tikus… (lincah gitu)
Shige : Lumba2 (orang pintar, ya cocoknya dengan binatang yang pintar juga dong!)
Uchi : Kecoa (Gomenn neee!!! Kau kan takut kecoa!! Aq lupa) bagaimana kalau, ikan duyung??
Kusano : Monyet aja ya… (abiz kamu lucu n ngemesin sih!)
Moriuchi: No comment!!!

37. Seumpama NEWS bubar, pekerjaan yang pantas buat mereka apa?
YamaPi: Businessman, ato BOSS
Ryo: Jadi pelatih Yoga yang butuh ketenangan…, ahli gulat, hontouu???
Masuda: nggantiin Pak Bondan Winarno (Wisata Kuliner Ver. Jepun)
Tegoshi: Ibu rumah tangga
Shige: Penjaga studio band dan ahli hukum
Kusano: sopir....
Uchi: pemain ballet???
Keiichiro: Ibu rumah tangga…

38. Junior yang mirip dengan mereka?
Nggak tau……..

39. Apakah kau menempelkan poster NEWS dididing? Dikamarmu?
Tuh!! Banyak banget!!! Kyaaaa!! (tapi sekarang udah ngga!! Disuruh ngepas sama okaasan!!!)

40. Apakah Uchi dan Kusano akan kembali ?
Sungguh???? Kapan???

41. apakah kau menginginkan mereka kembali ? mengapa? Mengapa tidak?
Ya tentulah!! Mereka kan jiwa NEWS yang hilang!!!

42. Personil NEWS mempunyai pacar, apa yang kau katakan ?
Omedetou gozaimasu^^

43. Dapatkah kau menuliskan kanji dari semua personil news ?
Hehehehehe……….. bisa donk!!! Hanya YamaPi dink…

44. Ingat tanggal lahir personil NEWS?
Hanya YamaPi dan Shige….
9April dan 11Juli……. Hehehehe… tambahan.. Massu : 4 Juli (wuahhh bentar lagi donk)

45. NEWS Kehilangan beberapa anggotanya, siapa saja ? dan mengapa?
@Moriuchi : nggak boleh ama ortunya n disuruh melanjutkan sekolahnya dulu.
@Kusano : mabuk2kan dibawah umur. (dasar anak nakal!!!)
@Uchi : Sama kasusnya mabuk2kan dibawah umur (Bocah ikut2tan!!!)

46. Dari ketiga X member NEWS, siapa yang ingin kau bawa kembali bersama NEWS ?
Kusano 100% (tim penggembira NEWS setelah Keichi-chan)

47 Apa yang ingin kau katakan :
North East West South NEWS!!! Ganbatte!!!

Harapan Yang Tersisa


Fanfic by : Takasuki-Chan

Harapan Yang Tersisa . . .
" Huuufffft !!! Satu hari yang panjang telah menantiku lagi… Aku harus bergegas." pikirku dalam hati.
Pagi itu, aku bergegas turun dari kamarku. Karena Ryo, adikku telah memanggilku untuk sarapan bersama. Ryo, telah bersiap di meja makan. Seperti hari-hari yang lalu, kami berdua sarapan dengan hening. Ibu dan ayahku sudah lama pergi ke tempat yang jauh. Katanya, mereka mengadakan tour bersama. Kini, hanya ada aku, dan Ryo. Kami sering ditinggal pergi oleh orang tua kami. Karenanya, kami sudah biasa hidup mandiri. Kebiasaan burukku ketika sedang makan adalah melamun. Dan Ryo paling senang mengagetkanku dengan berteriak.
" Kak Luna ! Jangan bengong donk. . . Aku nggak terlalu suka suasana hening kayak gini !!!" teriak Ryo padaku.
" Ryo, jangan berteriak ketika sedang makan!" kataku menasehati.
" Baiklah. . .Aku tidak akan berteriak lagi kok. . .Tapi, kakak akan mengantarku ke sanggar kan?"
" Iya. . .iya. . .Kakak akan mengantarmu ke sanggar kok. Tapi, bagaimana perkembanganmu selama 3 bulan ikut pelatihan di sanggar?" tanyaku.
" Sekarang aku udah bisa ngedance dengan bagus kok. Pelatihku saja selalu memujiku" jawabnya semangat sambil senyum-senyum.
" Benarkah ???" tanyaku ragu.
" Benar kok! Kalau kakak tidak percaya, tanya saja sama pelatihku." tantangnya.
" Ok!!! Akan ku tanyakan." Jawabku.
Keluargaku merupakan keluarga seniman. Ayahku adalah seorang pencipta lagu, dan lagu-lagu ciptaan ayah sering dinyanyikan oleh ibuku. Karena ibuku merupakan seorang penyanyi. Ayah dan ibu sering sekali meninggalkan kami berdua. Mereka sering keluar kota untuk tour bersama. Terkadang aku merasakan kebencian terhadap mereka. Tapi, selalu ku buang jauh-jauh perasaan itu.
Dalam keluargaku, Ryo, adikku mewarisi bakat ibuku. Yaitu bakat menyanyi dan dance. Sedangkan aku, mewarisi bakat ayahku yang pandai menciptakan lagu.
" Ryo…." Teriakku.
" Ya. . . tunggu sebentar kak…" jawabnya.
" Cepetan dong!!! Aku bisa terlambat nie ke sekolah…"
" Iya. . .Iya. . . nggak sabaran amat sich jadi orang!" katanya padaku.
" Ayo cepetan !!!" suruhku.
Sepanjang perjalanan, Ryo selalu membicarakan tentang pelatihnya. Ia bilang kalau pelatihnya terpaut satu tahun dengan aku. Jadi, sekarang pelatihnya kuliah semester satu di Universitas Tokyo. Karena terlalu senang, Ryo tidak sadar kalau ia sudah sampai di depan sanggarnya.
" Hey Ryo. . . Kau tidak mau masuk ???" tanyaku.
" Masuk ke mana kak? "
" Tuw. . .sanggarnya__" Jawabku sambil menoleh ke arah kanannya.
" Cepetan masuk sana__ Kakak harus segera pergi__ Daahhhh!!!" kataku sambil melambaikan tangan.
Setelah mengantar Ryo, aku bergegas pergi ke sekolahku, SMA kitagawa. Aku sekarang kelas 12. Jadi, aku tidak boleh terlambat karena akan menghadapi ujian. Aku berlari sekencang mungkin supaya tidak terlambat memasuki kelas. Karena tidak ada waktu lagi, aku memberanikan diri melompati tembok tinggi di samping sekolahku. Ketika akan lompat ke bawah, ada seorang cowok yang sedang lewat. Dengan spontan aku berteriak. Namun, karena sudah dekat, ia sulit untuk menghindar. Akhirnya, aku jatuh di atas punggungnya. Ku kira itu sangat sakit. Karena aku jatuh dengan sangat cepat dan keras. Dengan hati-hati, aku membantunya bangun.
" Kau tak apa kan?" tanyaku khawatir. Ia masih menunduk. Ini membuatku semakin takut. Aku takut kalau punggungnya patah. Atau lebih fatalnya, ia tak bisa bangun untuk selamanya. Aku berusaha untuk membuatnya duduk. Setelah itu, aku melihat keadaannya. Aku sangat terkejut ketika mengetahui dia pingsan setelah kejatuhan diriku. Dengan panik, aku membopongnya ke UKS. Setelah itu, aku meninggalkannya di UKS karena bel telah berbunyi.
Di dalam kelas, perasaanku tidak tenang. Aku selalu memikirkan keadaan cowok tadi. Aku takut kalau terjadi hal buruk padanya. Waktu pelajaran begitu lama . Pikiranku panic dan tidak bisa konsentrasi pada pelajaran.
" Ku harap ia tidak apa-apa dan bel segera berbunyi " doa ku dalam hati.
Beberapa menit kemudian, bel berbunyi. Aku bergegas menuju UKS. Sesampainya di sana, dia tidak ada. Aku pun memutuskan bertanya kepada perawat UKS tentang cowok tadi. Kata perawat itu, cowok tadi sudah sadar dan pergi entah ke mana. Dalam hati, aku sangat bersyukur karena ia masih bisa sadar dan berjalan. Tapi, disisi lain, aku merasa bersalah karena belum meminta maaf padanya.
Ketika jam istirahat kedua tiba, aku memutuskan untuk pergi ke atap sekolah. Itu adalah tempat yang paling menyenangkan untukku. Karena di tempat itulah, aku mendapat inspirasi untuk laguku. Ketika mencapai atap, aku melihat seorang cowok, sedang tidur di sisi pojok atap. Aku mendekatinya . . . dan semakin dekat . . . Dengan spontan, aku duduk di sampingnya. Aku tidak peduli kalau aku akan menggangu tidur siangnya. Karena ini merupakan tempat spesialku di sekolah.
Aku melihat dia begitu nyenyak tidur. Ia menutup wajahnya dari sinar matahari dengan gakurannya. Aku secara tidak sadar telah lama memperhatikannya. Tiba-tiba ia terbangun dan aku pun terkejut. Ia membuka gakurannya. Dan aku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Kemudian, aku teringat pada wajah cowok yang tadi pagi ku jatuhi. Secara spontan aku bertanya padanya.
" Apa punggungmu baik-baik saja? " tanyaku tiba-tiba.
" Maksudmu?" tanyanya keheranan.
" Maaf soal tadi pagi . . . aku tidak sengaja menjatuhimu." Akuku.
" Jadi, kau yang tadi pagi menjatuhi punggungku? Kau itu telah membuat punggungku hampir patah tau!!!" jelasnya dengan marah.
" Aku kan sudah minta maaf, aku juga sudah membopongmu ke UKS kan?"
" Jadi kau yang membawaku ke UKS? Ternyata kuat juga kau membopongku" katanya dengan nada mengejek.
" Kau pikir siapa lagi yang membawamu ke sana. Aku langsung panic waktu melihatmu pingsan tau!!! Tubuhmu itu seperti kapas. Ringan banget. . . Bahkan aku baru tahu kalau ada cowok sepertimu" kataku marah.
" Kau itu sudah menjatuhi punggungku sampai mau patah, malah sekarang kau menghinaku seperti itu." Katanya padaku dengan geram.
" Salahmu sendiri kenapa melewati tembok itu pada saat aku sedang terburu-buru!" kataku kesal.
" Jadi kau menyalahkanku?" tanyanya marah. Wajahnya menatapku tajam. Pandangannya seakan mau membunuhku. Aku melihat kekesalan matanya padaku.
" Tidak juga. . . Tapi karena aku sudah meminta maaf padamu, perasaanku sudah lega sekarang." Kataku santai.
" Lega katamu . . . Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu ini padaku!" katanya marah.
" Tanggung jawab apa?" tanyaku.
" Karena perbuatanmu ini, aku kan jadi kesulitan untuk pergi ke tempat latihanku !!" katanya geram.
" Latihan apa?"
" Latihan. . . band!!!" jawabnya ketus.
" Jadi bagaimana aku harus membayar kesalahanku?" tanyaku polos.
" Karena aku vokalis, kau harus membawakan alat music dan mengiringiku dalam latihan menyanyi . . . Gimana? "
" Baiklah . . . Kalau hanya itu sich aku bisa." Jawabku santai.
" Oh ya . . . satu lagi . . ." katanya secara tiba-tiba.
" Apa lagi?"
" Kau harus menjemputku ke kelasku untuk mengantarku ke sini. Gimana?"
" Kalau yang itu . . . Jelas aku tidak mau!!!" teriakku.
" Kalau begitu siapa namamu dan dimana kelasmu? Jika kau tidak datang ke atap ini, aku yang akan menyeretmu ke sini." Katanya ketus.
" Luna . . . . Kelas 12 IA 1. Kalau kau?" tanyaku.
" Tegoshi Yuuya . . . Kelas 12 IA 2. Aku cukup terkenal lho . . ." katanya pede.
Aku mengabaikan perkataan terakhirnya. Aku langsung pergi meninggalkannya tanpa kata-kata. Karena kelas sudah dimulai.
…………………………………………………………………………………………
Pulang sekolah, aku menjemput Ryo di sanggarnya. Di sana, aku bertemu dengan pelatihnya.
" Pak . . . Bagaimana perkembangan Ryo slama di sini ?" Tanyaku.
" Ia sangat bagus . . . dari semua yang belajar di sini, perkembangan Ryo benar-benar menakjubkan. Ia bisa menguasai semua dance dalam waktu relative singkat. Dan aku berniat mengikutkannya dalam lomba dance nasional. . . Bagaimana?" tanyanya.
" Oh . . . aku tidak keberatan kok, pak . . . Aku bangga pada Ryo . . ." kataku.
" Hey, kalau di luar sanggar, jangan panggil aku dengan pak. Kelihatan tua sekali . . . Padahal kan kita masih sebaya" katanya sambil tersenyum.
" Kalau begitu?" tanyaku ragu.
" Masuda . . . panggil aku Masuda atau Massu . . . karena kau bukan muridku" katanya sambil tersenyum.
Aku membalas senyumannya. Ia tampak dewasa walaupun wajahnya masih seperti anak kecil. Tubuhnya yang pendek tapi gemuk. Rambutnya yang aneh. Wajahnya yang cubby dan pipinya yang dekik ketika tersenyum, benar-benar mirip panda dewasa. Tapi, panda yang satu ini terlihat sangat kawaiii.
" Kak . . . pulang yuuukkkk!!!!" ajak Ryo.
" Iya . . ." jawabku.
" Kami permisi dulu ya . . . M-Massu . . . " kataku ragu.
" Hai . . . hati-hati ya . . ." katanya pada kami.
" Iya . . . sampai jumpa . . ." kataku sambil melambaikan tangan.
Setelah itu, kami pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, aku menyiapkan makan malam untuk kami berdua. Ryo terlihat senang karena ia akan mengikuti lomba dance nasional. Aku sangat bahagia. Karena Ryo adalah adikku yang paling ku sayangi. Dan ia satu-satunya keluargaku . . . untuk sekarang . . .
…………………………………………………………………………………………
Keesokan paginya, setelah mengantar Ryo ke sanggar, aku melanjutkan perjalanan ke sekolahku. Kali ini, aku membawa gitar kesayanganku ke sekolah. Karena aku telah berjanji pada Tego kalau aku akan mengiringinya menyanyi.
Istirahat pertama, aku menuju ke atap sekolah. Aku mencoba mencari inspirasi untuk lagu terbaruku. Walaupun semua lagu buatanku tak pernah ku nyanyikan di depan umum. Karena suaraku begitu jelek untuk didengarkan. Jadi, aku menyimpan semua lagu-lagu ciptaanku di loker sekolah.
Aku memainkan satu lagu ciptaanku. Tapi, ketika di atap, aku sangat pede saat menyanyikan lagu ciptaanku. Karena di sini takkan ada orang yang mendengarkanku menyanyi.
" Suaramu bagus ya . . ." terdengar suara dari belakangku. Aku pun menengok ke belakang dan menemukan Tego berdiri memegangi punggungnya dan sedang mendengarkan nyanyianku. Aku sangat malu. Tapi aku berusaha menyembunyikan ekspresi malu ku.
" Sejak kapan kau di sana?" tanyaku marah.
" Sejak kau memulai memainkan gitarmu" katanya santai. " Suaramu bagus kok. Aku suka . . ." katanya menggoda.
" Jangan menggodaku . . . bilang saja kalau suaraku jelek!!! Aku takkan marah kok! " Kataku kesal.
" Aku tidak menggodamu. Aku sungguh-sungguh mengatakan hal itu kok . . ." Katanya sambil tersenyum kepadaku.
Senyumannya membuat hatiku tenang. Aku sangat terpesona. Sampai-sampai aku terdiam beberapa lama. Dan tidak sadar kalau Tego sudah berada di depan wajahku sejauh 30 senti. Aku terkejut melihat dia sedekat itu. Secara spontan, aku menjauhkan diri darinya.
" Kenapa kau?" tanyanya.
" Maksudnya??" berpura-pura tidak tahu maksudnya.
" Kenapa menjauhiku?" tanyanya.
" Aku tadi cuma kaget karena kau secara tiba-tiba berada sedekat itu dengan wajahku" kataku.
Ia tertawa mendengar perkataanku. Tapi, saat ia tersenyum, ia sangat manis. Wajahnya bagai malaikat. Dan aku begitu menyukainya waktu tersenyum. Berbeda saat pertama kali bertemu. Ia marah-marah padaku karena punggungnya kujatuhi hingga hampir patah.
" Tadi aku mendengarmu menyanyikan lagu yang belum ku tahu. Lagu apa yang kau nyanyikan?" tanyanya penasaran.
" I-Itu . . . lagu cipta-an . . . ku sendiri. Jelek ya?" Kataku malu.
" Jadi, kau pencipta lagu ya . . . Tak ku sangka . . . Lagu ciptaanmu bagus kok . . . Bagus banget malah . . ." pujinya padaku.
Wajahku merah padam mendengar pujiannya itu. Baru pertama kali ini, aku dapat memamerkan hasil karyaku pada orang lain. Aku sangat senang.
" Boleh aku menyanyikan lagumu?" pintanya.
" Bo-Boleh saja . . ." kataku terbata-bata.
" Arigatou. . . Tapi kau harus mengiringiku ya . . ." katanya sambil tersenyum.
" Baiklah . . ." jawabku sambil membalas senyumannya.
Sesudah bernyanyi dengan gembira, kami memutuskan membolos pelajaran selanjutnya. Kami masih ingin berbincang-bincang di atap. Aku sangat senang. Karena baru pertama merasakan hal seperti ini.
" Kau tahu? Hari ini hari yang sangat menyenangkan bagiku . . ." kataku memulai pembicaraan.
" Kenapa?" tanyanya penasaran.
" Karena kau . . ." kataku spontan.
" Maksudnya? Aku tak mengerti." Tanyanya polos.
" Karena kau . . . Orang pertama yang memujiku atas karyaku dan suaraku. . . Karena kau. . . Orang pertama yang bisa membuatku membolos pelajaran. . . Karena kau . . . Orang pertama yang membuatku merasakan semua hal seperti hari ini. Arigatou . . ." Kataku panjang lebar sambil tersenyum. "Dan karena kau juga, mungkin aku akan keseringan ketinggalan pelajaran."
" Benarkah??? Semuanya karena aku?" tanyanya ragu sambil menahan malu.
" Iya . . . aku serius . . . tapi sepertinya kata-kataku yang tadi seperti rayuan ya. . ." kataku menggoda.
" Tidak juga . . . He. . He. . He. ." katanya tertawa geli.
" Kau tahu kenapa aku senang bersamamu?" tanyaku.
" Nggak tau !" katanya santai.
" Karena senyumanmu." Kataku menggoda. Ia tertegun mendengar semua perkataanku hari ini.
" Kau itu pandai merayu ya . . ." katanya sambil tersenyum.
" Benarkah???" tanyaku ragu. " Padahal aku baru melakukannya kepadamu lho . . . HE…HE…HE…" kataku sambil tertawa geli.
" Kau benar-benar membuatku jatuh hati padamu ya . . ." katanya tiba-tiba. Aku sangat terkejut mendengar perkataannya.
" Maksudmu, kau suka padaku?" mencoba mempertegas.
" Aku cuma bercanda kok!!! HE…HE…HE… Aku kan suka menggodamu." Katanya bergurau.
" Kau benar-benar bisa membuatku yakin dengan segala perkataanmu ya . . ." kataku.
" Itulah keahlianku . . ." katanya menggodaku.
" Apa punggungmu udah sembuh?" tanyaku tiba-tiba.
" Lumayan sich. Sakitnya udah agak berkurang kok." Jelasnya.
" Huufffft . . . Syukurlah . . ." kataku. " Uppppsss . . . Sudah sore . . . Aku lupa menjemput adikku di sanggar. . ." kataku tiba-tiba. "Aku harus segera pulang. . ."
" Boleh aku temani?" pintanya.
" Benarkah? Boleh saja. . ." kataku.
Kami berjalan berdua menuju sanggar tempat Ryo berlatih. Dalam perjalanan pun, Tego selalu menggodaku. Senyumannya sangat manis. Membuat suasana hatiku nyaman bila di dekatnya. Lalu, kami sampai di sanggar itu. Aku menjemput Ryo dan bertemu dengan Masuda.
" Permisi, aku mau menjemput Ryo. . ." kataku.
" Oh . . . Luna . . . senang bertemu denganmu kembali." Katanya dengan ramah.
" Senang juga bertemu denganmu, Massu . . ." kataku sambil tersenyum.
Tego pun mengikutiku ke dalam sanggar.
" Massu!!!" teriak Tego dari belakang.
" Apa kau mengenalnya, Tego?" tanyaku.
" Tentu saja. . . Dia bassis dalam bandku dan ia juga orang yang paling jago ngedance diantara kami." Jelasnya.
" Tidak juga kok . . . Kau terlalu berlebihan . . . Apakah kalian satu kelas?" Tanya Massu pada Tego.
" Tidak . . . Kami beda kelas . . ." jawab Tego. " Jadi, kau jadi pelatih di sanggar ini ya?" Tanya Tego.
" Ini sanggar otousan . . . Jadi aku sudah bekerja di sini sebelum aku ikut band" jelasnya.
" Massu, aku dan Ryo permisi untuk pulang." Kataku meminta izin.
" Boleh ku antar?" Tanya Tego.
" Tidak usah . . .Tidak perlu repot-repot" kataku menolak.
" Baiklah . . . hati-hati ya . . ." Kata Massu dan Tego bersamaan.
" Iya . . . permisi"
………………………………………………………………………………………
Sesampainya di rumah, aku mengerjakan PR dan tugas-tugasku. Hari ini sangat melelahkan. Tapi, juga menyenangkan. Dan aku baru mengetahui kalau Massu dan Tegoshi adalah kawan satu band.
" Kak . . ." teriak Ryo dari bawah.
" Da pa Ryo?" tanyaku.
" Mau makan malam tidak? Aku sudah memasak nie. . ." teriaknya.
" Iya . . . tunggu bentar . . . Aku segera turun." Kataku.
" Tumben hari ini kau yang memasak? " tanyaku heran.
" Tak apa kan! Aku kan juga ingin membantumu. . ."
" Owhhh begitu ya . . ." kataku sambil tersenyum.
Setelah selesai makan, aku mendapat bagian cuci piring. Sedangkan Ryo ku suruh tidur. Karena hari ini dia kelihatan lelah.
Setelah selesai, aku pun kembali ke kamarku. Di kamarku, aku merenungkan kejadian hari ini.
" Kenapa hari ini Tego berkata seperti tadi ya . . .." . " Kenapa senyumannya bisa membuat hatiku jadi tak karuan kayak gini? Apa aku mulai menyukainya? " tanyaku dalam hati.
Aku pun berteriak. Berusaha menyangkal semua perasaanku pada Tego. Padahal, baru kemarin kami bertengkar. Kenapa hari ini bisa berubah 180 derajat sich. Kenapa perasaanku jadi tak karuan kalau ia tersenyum padaku. Apalagi kata-katanya waktu di atap. Benar-benar membuatku nyaman. Aku benar-benar bingung dengan perasaanku kali ini. Aku marah-marah tidak jelas. Karena kelelahan, aku tertidur ketika sedang marah-marah.
………………………………………………………………………………………
Hari ini adalah hari Sabtu, sekolahku libur. Jadi, aku tidak akan bertemu dengan Tegoshi. Karena persediaan makanan di rumah hampir habis, aku memutuskan untuk berbelanja di swalayan terdekat.
Setiap akhir pekan, aku menghabiskan waktuku bersama Ryo. Karena hari Sabtu dan Minggu, sanggar diliburkan. Tapi, karena hari ini Ryo sedang pergi ke Shibuya bersama teman-temanya, aku terpaksa menghabiskan waktu weekend ku sendirian.
Setelah selesai berbelanja, aku memutuskan untuk jalan-jalan. Aku bingung mau pergi ke mana. Jadi, aku berjalan tanpa tujuan dan terlihat seperti orang linglung.
Brrrrrruuuukkkkkkkkk !!!!
" Itttaiiiii . . ." kataku keras.
" Kau tak apa kan?" tanyanya.
" Wahhhh . . . belanjaanku jatuh semuakan!!! " kataku sambil membereskan belanjaanku yang berantakan.
" Gomenne . . . Aku tidak sengaja . . . Biar ku bantu membereskannya ya. . ." katanya.
Setelah selesai, aku berdiri dibantu orang yang menabrakku tadi.
" Luna . . ." katanya tiba-tiba. Aku pun mendongak untuk melihat wajah orang yang menabrakku. Dan aku pun terkejut.
" Massu . . . "
" Ahhhh . . . Gomenne . . . Aku tidak sengaja menabrakmu. Belanjaanmu jadi berantakan semua ya . . ." katanya menyesal.
" Tak apa kok . . . Lagi pula nggak ada yang rusak kan . . ." kataku.
" Benarkan tak apa-apa? " tanyanya khawatir.
" Beneran kok . . . nggak apa-apa . . ." kataku menyakinkan.
" Btw, kamu mau ke mana?" tanyanya.
" Aku tidak tau . . . Aku bingung mau pergi ke mana . . ."
" Kamu tuw aneh ya . . . Masak tidak tau tujuan perginya . . . Tapi lucu sich . . " katanya sambil tersenyum. Wajahku memerah karena malu. " Sini ikut aku. . ." katanya sambil menarik tanganku.
" Ehhhh . . . mau ke mana?" tanyaku penasaran.
" Udah . . . Ikut aja denganku . . . Daripada kamu linglung sendirian" katanya sambil tersenyum.
Tanganku masih digandeng oleh Massu beberapa saat. Lalu, kami berhenti di depan toko ice cream.
" Mau?" tanyanya padaku.
" Tapi kau yang traktir ya?" kataku bercanda.
" Boleh saja. Aku yang traktir dech . . . Kan aku yang ngajak kamu ke sini." Katanya sambil tersenyum.
" Beneran boleh nie . . . Kalau aku minta 10 ice cream, kau tetep traktir aku?" kataku menggoda.
" Boleh aja . . . Asal gigimu masih sanggup memakannya. . .HE…HE…HE…" katanya tertawa.
" Aku mau connelo sweetheart dunk . . . " pintaku.
" Hanya itu? Katanya mau 10 ice cream? "
" Nggak ahhh . . . Klo aku minta 10 ice cream, nanti kamu bangkrut . . . Kan aku mau minta ditraktir yang laen . . . HE. . .HE. . .HE . . ." kataku bercanda.
" Boleh aja sich klo mau ditraktir yang laen. . . Mumpung aku baru gajian n aku juga butuh temen. Mau kan temenin aku?"
" Mau kok . . . Mumpung aku juga ingin jalan-jalan. Padahal, biasanya aku bersama Ryo, jadi aku tidak linglung seperti tadi. Karena Ryo sedang pergi n aku juga bosan di rumah, makanya aku pergi sendirian. Tapi, malah aku kebingungan sendiri. Untungnya aku ketemu ma Massu." Kataku penjang lebar. Ia hanya tersenyum memandangku. Mendengarkan semua perkataanku yang panjang lebar.
" Kamu lucu ya . . ." katanya tiba-tiba.
" Ehhhhh????" kataku kaget.
" Eits . . . Tapi lucunya kalo lagi cerewet . . . HA . . . HA . . . HA . . ." katanya sambil tertawa puas.
" Kau menipuku . . . Sebel . . . Sebel . . . Sebel " kataku.
" Aku tidak menipumu kok. Malah aku bersungguh-sungguh. Lihat dech . . . Wajahmu lucu kalo lagi sebel." Ejeknya padaku. Wajahku merah padam karena malu.
" Sudah-sudah !!! Jadi, kau akan mengajakku ke mana lagi?"
" Sini, ikut aku!" ajaknya.
Tangannya masih menggenggam tanganku dan menariknya lagi menuju ke suatu tempat yang tak ku ketahui. Lalu, sampailah kami di sebuah taman. Disekitar taman, ada sebuah restoran. Ia memasuki restoran dan menyuruhku menunggunya di taman. Beberapa saat kemudian, ia membawa beberapa makanan dan minuman. Ia mengajakku duduk di tepi taman.
" Kenapa kau sendirian? Kenapa tidak bersama bandmu?" tanyaku memulai pembicaraan.
" Mereka semua sedang ada acara. Aku bosan sendirian. Jadi aku iseng aja pergi ke sini." Jelasnya.
" Bisakah kau ceritakan tentang bandmu padaku?" pintaku.
" Kenapa kau begitu tertarik?" tanyanya.
" Hanya penasaran saja. Habisnya Tego, semenjak kejadian itu, ia memintaku untuk menemaninya latihan vocal. Kelihatannya, ia sangat suka menyanyi." Akuku.
" Apa maksudmu dengan kejadian itu ? " tanyanya.
" 3 hari yang lalu, aku menjatuhi punggungnya sampai dia pingsan." Jelasku.
" Kok bisa?" tanyanya penasaran.
" Waktu itu, aku terburu-buru ke sekolah. Karena takut terlambat, aku mengambil jalan pintas, dengan melompati tembok tinggi di samping sekolah. Saat aku terjun ke bawah, dia sedang berjalan di bawahku. Karena ia tidak mampu menghindar, aku pun jatuh di atas punggungnya." Jelasku panjang lebar.
" Wow . . . Itu keren . . ." pujinya.
" Apanya yang keren? Karena hal itu, aku harus berbagi tempat spesialku dengannya setiap istirahat sekolah. " kataku kesal.
" Keren karena aku baru tau kalo ada seorang cewek yang berani melompati tembok sekolah. " jelasnya. " Btw, maksudmu dengan tempat special apa?" tanyanya penasaran.
" Kalo itu . . . . Himmitsu . . ." kataku sambil tersenyum.
" Jadi, aku tidak boleh tahu ya?" tanyanya.
" Nggak. . . Cukup dengan Tego aku membagi tempat spesialku." Jelasku.
" Boleh ku tanya 1 hal?"
" Bukannya dari tadi kau sudah bertanya hal-hal tentang diriku ya? Emang, apa yang ingin kau tanyakan? " tanyaku penasaran.
" Apa kau menyukai Tegoshi?".
Aku pun terkejut mendengar pertanyaannya. " Kenapa kau bertanya begitu?" tanyaku kesal.
" Nggak pa-pa sich. Tapi, jika aku melihatmu menceritakan Tego, wajahmu tak karuan n kau jadi salah tingkah. Jadi, apakah aku benar?
" Sebenarnya, aku tak mengerti tentang perasaan ku ini. Aku menganggapnya sebagai hal yang biasa saja. Karena aku berusaha menolak perasaan yang berlebihan." Jelasku.
" Kesimpulannya apa?" tanyanya mempertegas.
" Menurutmu?" ucapku kasar
" Kau suka pada Tego . . . Sudah ku duga. Dia memang bisa membuat orang disekitarnya nyaman dengan kata-katanya maupun senyumannya." katanya pelan.
" Terserah kau mau menyimpulkan apa . . ." kataku kesal. " Btw, kan aku yang pertama kali bertanya padamu. Kenapa sekarang malah kau yang mengintrogasiku?" tanyaku.
" Memangnya, apa yang kau tanyakan padaku?"
" Aku tadi tanya tentang bandmu? Bisa nggak kamu jelasin sama aku?" kataku kesal.
" Owh . . . bandku ya . . . Namanya NEWS. Personilnya ada 4 orang. Aku as bassis, Tego as vokalis, Yamashita as gitaris, n Shige as drummer. Kami semua berbeda sekolah dan tingkatan. Kami bertemu disebuah pertunjukan music. Secara tidak sengaja, kami berbincang-bincang dan menemukan kecocokan satu sama lainnya. Lalu terbentuklah NEWS." Jelasnya.
" Kata Ryo, kau setahun di atasku ya?" tanyaku.
" Iya . . . Aku baru lulus SMA dan sekarang kuliah di Universitas Tokyo semester 1 . . . Sedangkan Yamashita 2 tahun di atasku. Dialah leader NEWS. Sedangkan Shige, dia sama seperti Tego. Ia masih SMA. " jelasnya.
" Kelihatannya, bandmu sangat keren ya . . . Aku jadi tambah penasaran nie."
" Baiklah, suatu hari nanti, aku akan mengenalkanmu ke anggota band NEWS." Ucapnya.
" Benarkah?" ujarku menyakinkan.
" Iya. Aku janji. . ." gumamnya padaku.
Tak terasa hari sudah sore..
" Hey, kau tak pulang? Sudah sore. . . Nanti Ryo mencarimu lho . . ."
" Sudah sore ya . . .Karena keasyikan, aku jadi lupa. Baiklah, aku pulang dulu ya . . ."
" Boleh ku antar sampai rumahmu?" tanyanya.
" Boleh saja. Asal tidak merepotkanmu"
" Tidak kok. Sama sekali tak merepotkan. Malahan aku senang bisa pergi seharian bersamamu." Katanya sambil tersenyum. " Sini, ku bawakan belanjaanmu." Pintanya.
" Tidak usah. Kau mengantarku saja, sudah cukup kok . . ." kataku.
" Sudahlah . . . Jangan menolak. Aku kan cowok, jadi sudah sewajarnya kalo aku yang membawa belanjaanmu." paksanya.
" Baiklah . . . Karena kau memintanya ya . . ."
Aku pun melepaskan belanjaanku dan memberikannya kepada Massu. Kami pun berjalan menuju rumahku. Walaupun jauh, tapi kami senang. Karena kami, masih bisa melanjutkan perbincangan kami. Beberapa saat kemudian, kami pun sampai di depan rumahku.
" Jadi, rumahmu di sini ya . . ." tanyanya. " Dekat dong dengan apartemenku."
" Benarkah???" tanyaku. " Di mana apartemenmu?"
" Itu . . ." dia menunjuk ke arah bangunan di sebelah utara rumahku.
" Wah . . . dekat sekali ya . . . itu kan cuma 100 meter dari sini." Kataku.
" Lalu, di mana aku bisa menaruh belanjaanmu ini?" tanyanya.
" Ohhhh . . . Aku sampai lupa. Sebentar, akan ku bukakan pintu agar kau bisa menaruhnya di dalam." Kataku.
" Baiklah . . . Aku akan menunggu."
" Silahkan masuk . . . Okaeri . . ." kataku menyambut.
" Sumimasen. . ."
" Nggak usah permisi segala. Nggak ada orang kok. Ryo juga belum pulang."
" Mana ayah dan ibumu? Lalu Ryo? " tanyanya.
" Otousan dan okaasan sudah pergi meninggalkan kami sejak 1 tahun yang lalu. Mereka tour keluar negeri. Sedangkan Ryo, dia belum pulang dari Shibuya." Jelasku.
" Memang ayah dan ibumu kerja apa?"
" Mereka seniman. Jadi, mereka sering pergi meninggalkan kami berdua untuk tour." Jelasku.
" Apa kalian juga mewarisi bakat orang tua kalian?" tanyanya penasaran.
" Iya . . . Ryo mewarisi bakat ibu. Makanya ia pandai ngedance. Kalo aku sich payah banget." Jelasku.
" Kalo kau sendiri? Pastinya kau juga punya bakat kan? Walaupun kau payah dalam ngedance." tanyanya padaku.
" Kalo aku mewarisi bakat ayah. Ia pencipta lagu. Dan lagu ayah sering dinyanyikan ibu." Jelasku.
" Sudah berapa lagu yang kau ciptakan? " tanyanya.
" Aku tidak ingat. Dan aku tak ingin mengingatnya." Kataku sambil memberinya minum. Suasana hening pun terjadi.
" Apa kau mau ku ajak pergi lagi?" tanyanya memecah keheningan.
" Ke mana?"
" Himmitsu . . . Kau mau tidak?" tanyanya memastikan.
" Boleh saja . . ."
" Ok . . . besok aku akan datang ke sini untuk menjemputmu. Gimana?"
" Baiklah . . ." kataku spontan.
" Karena sudah malam, aku pamit pulang dulu ya . . . Kau tak apa kan kalo ku tinggal sendirian?" tanyanya.
" Memangnya aku ini penakut apa . . ." kataku kesal.
" Baiklah . . . aku pulang ya . . ." katanya sambil melambaikan tangan padaku.
" Hati-hati ya . . . Dan terima kasih untuk hari ini" kataku.
" Sama-sama. . . Jaga rumah baik-baik ya . . ." gumamnya.
Semalaman aku menunggu kedatangan Ryo. Tapi, ia tidak kunjung pulang. Aku menunggunya hingga dini hari. Karena panic, aku meneleponnya. Tapi, telponku tidak diangkatnya. Aku sangat khawatir pada Ryo. Malam itu pun, aku tak bisa tidur karena memikirkan Ryo. "Jika terjadi apa-apa dengannya, aku takkan memaafkan diriku sendiri." gumamku sendiri.
Keesokan paginya, kira-kira pukul 08.00, aku berniat menyusulnya ke Shibuya. Tiba-tiba telpon rumahku berdering. Aku pun langsung mengangkatnya.
" Halo kak . . . Ini aku, Ryo . . ."
" Ryo . . ." kataku kaget. " Kau dimana? Kenapa semalam tak pulang? Aku kan jadi khawatir."
" Sebelumnya aku minta maaf karena udah buat kak Luna khawatir. Tapi, aku dan temen-temen nggak bisa pulang."
" Kenapa? Apa yang terjadi pada kalian?" tanyaku panic.
" Tenang saja kak . . . aku baik-baik saja kok. Aku cuma mau bilang kalo hari ini, akan pulang malam. Karena aku masih ingin pergi berkeliling Shibuya dan pergi ke kuil untuk berdoa. Dan maaf karena tadi malam tidak sempat meneleponmu. Baterai hp ku habis. Jadi aku kesulitan menghubungi kakak." Jelasnya.
" Begitu ya . . . Syukurlah tak terjadi apa-apa. Karena khawatir, aku jadi berniat menyusulmu ke sana. Untung kau cepat menelepon. Kalo tidak, aku akan gila karena berpikir yang macam-macam tentangmu."
" Sekali lagi maaf ya kak . . . Udah dulu ya . . . Dahhh."
" Hati-hati ya . . . Pulanglah dengan selamat." Pintaku.
" Ok kak . . . Tenang saja."
Tut . . . Tut . . .Tut . . .
" Huufft . . . lega banget . . . Untungnya semua pikiranku tadi malam nggak ada yang terwujud." Ucapku bahagia.
Aku pun terduduk di ruang tamu. Tanpa sengaja, aku tertidur di sofa. Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi bel. Aku terkejut dan terperanjat dari sofa. Lalu, aku menuju pintu depan untuk membukakan pintu.
" Hai Luna . . . Kau sudah siap?" ujarnya tiba-tiba.
" Oh Massu . . . Tunggu sebentar ya . . . Aku akan bersiap-siap dulu."
" Baiklah . . . Aku akan menunggumu. Santai saja." Ujarnya tenang.
Aku segera naik ke kamarku. Merapikan baju dan rambutku. Membasuh mukaku supaya terlihat segar. Lalu, bergegas turun.
" Maaf menunggu lama."
" Nggak kok . . . " katanya. " Hey . . . mana adikmu?" tanyanya.
" Dia belum pulang dari Shibuya."
" Jadi, semalam kau sendirian di rumah?"
" Iya . . . Tenang saja . . . Aku kan sudah terbiasa." Kataku tegas.
" Kau itu sudah aneh, sok kuat lagi." Ledeknya sambil tertawa.
" Aku tidak terima kau bilang aku aneh ya . . . Sudah 2 kali kau menyebutku aneh. " kataku marah.
" Jadi kau marah nie?". Aku diam dan tidak menjawab pertanyaannya.
" Ayo pergi. Ku perlihatkan tempat spesialku padamu" lanjutnya sambil menarik tanganku.
" Kau itu nyebelin ya . . . Aku kan lagi marah. Kenapa kau menarikku tanpa rasa bersalah atau setidaknya minta maaf kek!!" omelku. Ia diam mendengar omelanku. Jadi, sepanjang perjalanan ini, aku diam. Ia tetap menarik tanganku.
" Sudah sampai." Ujarnya tersenyum. Kami sampai disebuah telaga. Telaga itu sangat bagus dan alami. Tempat telaganya pun jarang dilewati orang. Jadi, suasana di sini sangat alami.
" Wow . . . keren." Ujarku kagum.
" Disini, aku biasa menghabiskan waktuku. Ketika sendirian, marah, senang dan sedih, aku selalu ke sini. Di telaga ini, aku mendapat kenyamanan. Dan aku membawamu ke sini karena aku ingin menunjukkan tempat spesialku." Jelasnya padaku.
" Jadi, tempat ini sangat istimewa ya . . . Dari mana kau tahu telaga ini? Kan tempatnya sangat tersembunyi." Tanyaku.
" Aku mengetahui tempat ini dari teman kecilku. Dulu kami sering berpetualang bersama. Kami menghabiskan waktu kami hanya untuk pergi ke tempat-tempat baru. Pergi ke tempat yang tak kami kenal. Tersesat . . . Itulah hal yang paling sering kami alami. Sampai suatu hari, temanku berpetualang sendirian. Karena waktu itu, aku sedang sakit. Dalam petualangannya, ia menemukan telaga ini. Besoknya, aku diajak pergi olehnya ke telaga ini. Dan kami sudah menetapkan kalo telaga ini adalah tempat special kami. Hanya kami berdua . . . Dan tak seorang pun boleh tau telaga ini kecuali kami berdua." Jelasnya padaku. Selama bercerita, aku diam dan duduk disisinya. Melihat ekspresinya, ia terlihat sangat sedih.
" Kalo gitu, kenapa kamu nunjukin telaga ini ke aku?
" Karena kamu mirip banget ma dya. Bukan wajahnya sich. Tapi, sikapmu yang berani, tomboy, enerjik. Itu yang membuat kalian mirip."
" Lalu dimana temanmu itu?" tanyaku.
" Dia sudah tidak ada lagi. Dua bulan setelah menemukan telaga ini, dia sakit keras. Kata dokter, dia terkena asma kronis yang parah. Aku tau kalo dya punya penyakit asma. Tapi, aku nggak nyangka kalo penyakit asmanya udah separah itu. Dia dilarang keluar rumah oleh dokter. Walaupun begitu, kebiasaannya ialah memberontak. Dan aku suka pada sifatnya yang itu. Suatu hari, diam-diam dia kabur dari rumah dan mengajakku ke telaga. Dia bilang kalo ia sangat rindu pada telaga karena udah berada di kamar tidurnya selama seminggu. Jadi, aku mengantarnya. Aku nggak tau kalo perbuatanku itu bisa berakibat fatal."
" Apa yang terjadi? " tanyaku penasaran. Ia terdiam. Aku sangat khawatir jika pertanyaanku tadi membuat perasaannya menjadi sedih.
" Kau tak apa kan? Jangan diam. . . Aku kan jadi takut. Nggak usah dijawab pertanyaanku tadi.". Aku memandanginya. Beberapa saat ia diam dan kaku.
" Saat sampai di telaga, ia berkata bahwa ia kabur dari rumah dan ia bilang kalo ini mungkin kesempatan terakhirnya mengunjungi telaga ini. Spontan, aku tertawa mendengar perkataannya. Lalu, aku bertanya, "Kau bercanda kan? Kau tau, kau sudah membuatku percaya dengan perkataanmu tau." Ujarku padanya. " Aku tak bercanda . . . Aku sungguh-sungguh dengan ucapanku. Aku sudah tak sanggup melawan penyakitku ini lagi." Jawabnya. Jadi, saat bersamaku, ia selalu menahan rasa sakitnya dan berusaha untuk menikmati semua petualangan kami. Dan bodohnya, aku nggak pernah tau tentang hal itu.
" Waktu ia bilang kalo ia tidak bercanda, dengan spontan aku memeluknya. Dan aku menangis dihadapannya. Beberapa saat kemudian, dia pingsan dalam pelukanku. Aku pun membawanya ke rumah sakit sambil berlari. Dalam pikiranku waktu itu, aku hanya ingin dia selamat. Tapi, aku terlambat . . . Sesampainya di rumah sakit, ia sudah sekarat. Tapi, ia tetap bertahan. Selama dya dirawat, aku selalu berada di rumah sakit. Saat itu, ia sadar dan ia sedang melihatku ngedance. Ia bilang kalo ia ingin belajar ngedance. Dan aku bilang padanya kalo mau ngedance, kamu harus sembuh. Tapi, 1 hari setelah ia sadar, keadaannya menjadi kritis. Lalu, aku segera berlari menuju ke kamarnya. Disana, ia berkata padaku kalo ia ingin aku tetap ngedance dan akan selalu ngedance demi bagiannya juga."
Saat bercerita, aku melihatnya menahan tangis. Aku mencoba mendekatinya.
" Kau baik-baik saja kan?" tanyaku. Tiba-tiba ia memelukku dengan erat. Ia menangis di bahuku.
" Tenanglah, Massu . . . Temanmu pasti bahagia disana. Dari sana kan ia bisa melihatmu. Massu, teman masa kecilnya yang mengajarkannya tentang persahabatan dan kesenangan yang bisa ia lakukan bersama sahabatnya. Walaupun ia punya penyakit yang membatasi semua kesenangannya, ia tetep senang kan saat bersamamu." Hiburku. Massu masih memelukku dan berusaha menghentikan air mata yang mengalir dipipinya. Baru pertama kali ini, aku melihat seorang cowok sepertinya. Walaupun kelihatan bersemangat, ia menyimpan rahasia yang menyedihkan. Kehilangan sahabat kecilnya. Sahabat yang selalu mengisi hari-harinya. Setelah agak tenang, kami hanya diam dalam keheningan.
" Apa kau menyukainya?" tanyaku memecah keheningan.
" Ya. . .aku sangat menyukainya . . . Dia istimewa . . . sangatlah istimewa." Ujarnya. " Dan aku berharap ia kembali."
" Sssssstttttt . . . Jangan begitu . . . Biarkan dia tenang dan bahagia di sana. Aku yakin kalo kau akan menemukan penggantinya." Kataku menasehati.
" Aku nggak mau . . . Dan tak ada yang bisa menggantikannya. Karena ia sangat istimewa." Teriaknya padaku. Keadaan pun menjadi hening.
" Ayo pulang. Udah cukup lama Qt disini. Kuantar kau sampai rumah." Ujarnya memecah keheningan.
"Iya." Ucapku mengiyakan.
Ia mengulurkan tangannya padaku. Membantuku berdiri. Dan menarik tanganku kembali seperti tadi pagi. Selama perjalanan, ia tak bicara apapun. Menoleh padaku saja tidak. Beberapa saat kemudian, sampailah kami di rumahku.
" Terima kasih telah mengantarku."
" Sudah sewajibnya kan . . . Aku kan yang mengajakmu pergi."
" Ehhh Massu, boleh nggak kalo aku minta nomor telponmu?" pintaku.
" Boleh saja . . ."ujarnya sambil tersenyum. Kami pun saling bertukar nomor telpon dan alamat e-mail. Setelah itu, ia pamit pulang. Dan aku pun masuk ke rumah.
" Ryo . . . Kamu udah pulang? " Ujarku sambil melepas sepatu. Tapi, tak ada jawaban. Lalu, aku melihat jam. Sekarang masih jam 5 sore. Mungkin ia masih dalam perjalanan. Aku pun menunggu Ryo di ruang tamu. Hingga tanpa sadar, aku tertidur. Ketika terbangun, Ryo belum juga pulang. Padahal ini sudah jam 9 malam. Aku berusaha menelponnya. Tapi, tidak tersambung. Aku pun panic. Lalu, mengambil hp dan keluar rumah. Aku menunggu Ryo. Lama . . . Ia tak kunjung datang. Aku pun menelpon Massu.
" Moshi-moshi Massu . . . Maaf mengganggu malam-malam." Ujarku panic.
" Ada apa Luna? Kenapa suaramu terdengar panic?"
" Ryo belum pulang . . . Aku khawatir padanya. Bisakah kau membantuku mencarinya di Shibuya?"
" Jangan bercanda Luna. . . Ini sudah jam 11 malam. Memangnya kau mau keliling Shibuya tengah malam? Lagi pula mana ada kereta yang menuju Shibuya tengah malam seperti ini "
" Aku nggak peduli . . . Yang penting Ryo kembali. Pasti masih ada kereta malam yang berangkat ke Shibuya. Aku tidak akan memaafkan diriku kalo terjadi sesuatu yang buruk padanya."
" Luna . . ." teriaknya. " Tolong tenang . . . Jangan panic. Takkan terjadi hal buruk pada Ryo. Aku tau dia itu pemberani. Dan aku yakin dia baik-baik saja." Ujarnya menasehati. " Lebih baik kamu tidur sekarang. Besok pukul 6, aku akan ke rumahmu dan kita akan pergi ke Shibuya pagi hari. Bagaimana?" tanyanya.
Aku terdiam. Aku tak bisa menunggu. Terlalu takut dan pikiranku kosong.
" Kau baik-baik saja kan?" tanyanya panic. Aku tetap diam.
" Hey, jangan bikin aku khawatir donk. Bicaralah sesuatu padaku. Kalo begitu, aku akan ke rumahmu sekarang. Jangan pergi ke mana pun. Tetap disana."
Aku tak menjawabnya. Telpon ku matikan. Pikiranku masih kosong. Aku masih berdiri di depan teras. Beberapa saat kemudian, muncul Massu di hadapanku.
" Luna . . ." teriaknya. " Kau baik-baik saja kan?" tanyanya panic.
" Massu . . ." teriakku. " Cepat ikut aku" ujarku sambil menarik tangannya.
" Kita mau ke mana?" tanyanya. Aku mengabaikan pertanyaannya. Dan terus menariknya ke stasiun. Lalu, aku membeli dua tiket kereta tujuan Shibuya.
" Ayo cepat. Sudah tak ada waktu lagi." Ujarku masih menarik tangannya.
" Iya . . . Tapi, tenanglah. Memangnya kau tau Ryo ada dimana?"
" Aku tau. . . Dia masih di kuil. Dan ku rasa, ia takkan pergi ke mana pun."
" Kenapa kau bisa seyakin itu?"
" Waktu kecil, kami sekeluarga suka sering pergi ke Shibuya. Karena disana sangat menarik. Ryo paling senang mengunjungi kuil terbesar di Shibuya. Karena baginya, kuil merupakan tempat paling aman dan nyaman. Dan aku yakin kalo ia takkan pergi dari kuil. Aku punya firasat kalo Ryo takkan bisa pulang." Jelasku padanya.
" Kau itu brother complex ya?" tanyanya tersenyum.
" Karena Ryo adalah alasanku tetap semangat menjalani hidup. Semenjak kedua orang tuaku sering meninggalkan kami, semangat hidupku juga berkurang. Suatu hari, aku sadar kalo aku tidak boleh putus semangat. Karena aku masih mempunyai seorang adik yang menyayangiku. Dan aku tidak boleh menyiakannya."
" Kau benar-benar kakak yang baik ya . . ." pujinya padaku. " Aku yakin, Ryo pasti sangat beruntung punya kakak sepertimu. Selama di sanggar, ia selalu menceritakan semua hal tentang kakaknya padaku. Ia sangat bersemangat. Oleh karena itu, aku sangat senang bisa mengenalmu dan Ryo." Jelasnya menghiburku.
Tak lama, kami sampai di Shibuya. Aku bergegas turun dan mencari taksi untuk pergi ke kuil tersebut. Tapi, Massu menarik tanganku. Dan berkata, "Tenanglah . . . Jangan terburu-buru. Katamu, ia takkan kemana-mana kan." Aku mengikuti nasihatnya.
Sesampainya di kuil, aku mencari Ryo. Dan aku menemukannya sendirian. Dia sedang bersandar di tiang kuil dan tertidur. Aku duduk di sampingnya dan Massu pun duduk di sampingku.
" Kau tak membangunkannya untuk mengajaknya pulang?" tanyanya padaku.
" Tidak. Menemukannya saja, aku sudah bersyukur. Aku akan menunggunya bangun. Baru mengajaknya pulang."
" Bukannya besok kau harus sekolah ya?"
" Aku akan membolos dulu. Tak masalah kan?"
" Dasar nakal . . ." ejeknya sambil tersenyum.
Beberapa saat kemudian, Ryo terbangun. Ia melihat aku dan Massu di sampingnya. Spontan ia memelukku erat. Menangis di bahuku.
" Aku takut . . . Aku tersesat dan uangku habis. Aku bingung harus bagaimana. Baterai hpku habis dan tak bisa menelpon kakak." Jelasnya sambil memelukku.
" Sudahlah . . . Kakak kan di sini. Pulang yukk!!!" ajakku.
Kami berdiri dan berjalan keluar kuil. Massu masih di belakang kami. Saat ini, masih jam 3 dini hari. Dan kami memutuskan untuk berkeliling Shibuya. Menunggu sampai pukul 5 pagi. Karena kereta jurusan Tokyo baru ada jam segitu. Kami berjalan-jalan berkelililng Shibuya dan tak terasa sudah pukul setengah lima pagi. Kami bergegas menuju ke stasiun. Kami tidak ingin ketinggalan kereta pertama. Jika kami tidak naik kereta ini, kami harus menunggu 1 jam lagi untuk naik kereta selanjutnya. Massu membeli 3 tiket dan kami langsung memasuki kereta.
Dalam perjalanan menuju Tokyo, aku tertidur. Dan waktu bangun, kami sudah sampai di Tokyo. Massu mengantar kami sampai rumah. Aku mengucapkan terima kasih padanya. Lalu, ia pamit pulang. Kami pun masuk ke rumah dan aku melihat jam. Sekarang masih pukul 6 pagi. Karena terlalu lelah, aku menuju kamarku dan langsung tertidur. Dan hari ini, aku pun membolos sekolah.
………………………………………………………………………………………
Ketika terbangun, jam menunjukkan pukul 11 siang. Segera aku keluar kamar dan turun ke lantai bawah. Di sana, aku melihat Ryo dan Massu sedang bermain Nintendowi.
" Kalian . . ." kataku tiba-tiba.
" Kakak udah bangun ya . . . Kalau mau sarapan, tuw udah siap di meja." Kata Ryo padaku.
" Kenapa kau ada di sini Massu?" tanyaku pada Massu.
" Memang tidak boleh ya?"
" Nggak pa-pa sich. Cuma kaget aja lihat kamu di sini. Memang hari ini nggak ada jadwal kuliah?" tanyaku.
" Aku bolos . . . " ujarnya tersenyum.
" Kenapa Ryo juga nggak ke sanggar?" tanyaku pada Massu.
" Karena aku nggak mau ninggalin kak Luna sendirian di rumah lagi. Makanya, aku minta sama kak Massu ke sini. Jadi kan aku bisa latihan di rumah" jawab Ryo padaku. " Kak Luna cepetan mandi donk. Bau semua nie. Ha . . . Ha . . .Ha . . ." ledek Ryo padaku. Dan aku melihat Massu menahan tawa.
Aku bergegas ke kamarku dan mandi, setelah itu, aku makan sendirian. Melihat mereka berdua bermain, aku jadi senang. Karena baru pertama kali ini Ryo punya lawan tanding. Biasanya mainnya sama aku. Dan aku selalu kalah telak, makanya Ryo jadi malas maen.
Seharian penuh, Massu berada di rumahku. Baru kali ini rumahku jadi ramai seperti ini. Ryo terlihat sangat senang. Beberapa saat kemudian, Massu pamit pulang. Aku mengantarnya ke pintu depan.
" Arigatou . . . udah nemenin Ryo seharian." Kataku mengucapkan terima kasih.
" Doitashimashita . . . Aku juga senang di sini." Jawabnya sambil tersenyum. "Aku pulang dulu ya . . ." ucapnya sambil melambaikan tangan.
" Hati-hati ya . . ." ucapku. Aku pun masuk ke rumah dan melihat Ryo tertidur di ruang tengah. Lalu, aku mengambil selimut untuk Ryo dan naik ke kamarku. Tak terasa sudah jam 8 malam. Aku menyiapkan semua pelajaranku untuk besok dan bergegas tidur.
………………………………………………………………………………………
Keesokan paginya, aku bersiap pergi ke sekolah dan menyiapkan sarapan. Lalu, aku memanggil Ryo untuk sarapan.
" Hari ini pergi ke sanggar kan?" tanyaku pada Ryo.
" Nggak kok . . . Hari ini, kak Massu mau ke sini lagi. Kata kak Massu, dia kuliah malam. Jadi bisa maen ke sini sekaligus latihan."
" Jam berapa ia datang?"
" Sebentar lagi kok . . ."
Kemudian, terdengar suara bel berbunyi. Ryo langsung beranjak dari kursi dan menuju pintu depan. Ia membukanya dan aku melihat Massu di luar.
" Kau datang lagi ya . . . Lama-lama, Ryo jadi private donk." Ujarku tersenyum.
" Aku malah senang kalo bisa datang ke sini. Habisnya di sanggar nggak ada Nintendo sich. Jadi bosen. . . Kalo di sini kan bisa sambil maen-maen." Ujarnya tersenyum.
" Ya sudah . . . Aku berangkat dulu ya . . . Titip adikku . . ."
" Tenang saja . . . Aku pasti menjaganya."
Waktu melewati gerbang sekolah, aku melihat Tego sedang bersandar di gerbang. Lalu, aku mendekatinya.
" Ohayou Tego . . ." sapaku. "Kenapa di sini?"
" Menunggumu." Jawabnya ketus.
" Menungguku?? Memangnya kenapa kau menungguku?" tanyaku penasaran.
" Kemarin kau ke mana saja? Aku menunggumu seharian di atap tau. Tapi, kau tak datang. Lalu, aku pergi ke kelasmu, tapi kau nggak masuk."
" Gomen Nee . . . Kemarin aku pergi ke Shibuya."
" Shibuya? Ngapain kamu ke sana? Sama sapa." Tanyanya penasaran.
" Kenapa sich!!! Itu kan bukan urusanmu. Kenapa kau pengen banget tau." Jawabku ketus. Lalu, aku melangkah masuk ke sekolah. Meninggalkannya sendiri di gerbang. Tiba-tiba ia menarik tanganku dan berkata, " Matte!!! Gomen nee . . . Bukan niatku untuk ikut campur. Aku cuma penasaran karena kemarin kau nggak masuk sekolah." Ucapnya menyesal.
" Maukah kau membolos lagi hari ini? Aku ingin mengajakmu pergi." " Jangan hari ini, aku terlalu capek untuk pergi lagi. Sudah dua hari kemarin aku nggak tidur. Aku mau cepet pulang."
" Memangnya kau ngapain aja sampai 2 hari tidak tidur?" tanyanya marah.
" Sudah ku bilang kalo itu bukan urusanmu!!!" jawabku kesal. " Cepetan masuk kelas. Nanti terlambat lho . . ." ajakku.
Kami pun masuk ke sekolah bersama. Banyak temanku yang memandang ke arah kami berdua.
" Kenapa mereka memandang ke arah kita?" tanyaku pada Tego.
" Sudah ku bilang kan kalo aku itu terkenal. Dan aku jarang banget terlihat jalan sama cewek berduaan. Mungkin mereka penasaran kenapa kau bisa jalan berdua denganku seperti ini." Ujarnya pede.
" Kau itu terlalu pede dengan dirimu ya. . ." ucapku.
" Itulah aku . . . He . . .He . . .He . . ." ucapnya tertawa.
Tak lama, sampailah di kelasku.
" Duluan ya . . . Aku masuk dulu. Jangan bolos pelajaran lho . . ." kataku menasihati.
" Iya . . . Sampai jumpa waktu istirahat ya . . ." ucapnya padaku.
………………………………………………………………………………………
Saat istirahat, aku menuju atap sekolah. Dan aku melihatnya duduk di tempat biasanya. Aku mendekatinya dan duduk di sampingnya.
" Lama menunggu?" tanyaku.
" Nggak kok . . . Aku baru dateng juga." Ujarnya tersenyum.
" Bolehkah Aku tanya satu hal padamu?" tanyanya padaku
" Mau tanya apa?"
" Kau masih mau temenin aku di sini? Walaupun punggungku udah sembuh total."
" Jadi, punggungmu udah sembuh total ya . . . Syukurlah." Ucapku.
" Jadi kau mau tidak kalo nemenin aku di sini tiap istirahat sekolah?"
" Tentu saja. Kita kan sahabat. Dan aku akan berusaha jadi sahabat yang baik." Kataku tersenyum.
" Arigatou . . ." ucapnya tersenyum.
" Eh tau nggak? Kalo bulan depan akan ada murid baru di sekolah kita lho." Gumamku padanya.
" Aku tau kok. . . Murid pindahan dari Osaka. Cewek . . . dan katanya sich cantik. Tapi, aku nggak begitu peduli." Ucapnya acuh.
" Atau jangan-jangan kau memang tidak tertarik dengan cewek ya." Kataku meledek.
" Kalo memang aku nggak tertarik dengan cewek, kenapa aku begitu tertarik denganmu." Ucapnya menggodaku. " Atau kau memang bukan cewek. He…He…He." Ejeknya padaku.
" Kenapa sich kau itu suka banget ngledekin aku?" tanyaku kesal.
" Kau lucu sich. . . Ekspresimu nggak karuan tuh. Merah semua." Gumamnya sambil tertawa.
" Cukup . . . Jangan menggodaku lagi. Aku tidak suka." Ucapku kesal.
" Kalo sedang marah, wajahmu tambah lucu dech!!!!" katanya tersenyum.
Obrolan kami siang itu tanpa arah. Karena terlalu asyik, aku terlambat masuk kelas. Jadi, aku dan Tego mutusin buat bolos pelajaran terakhir. Tanpa sadar, hari sudah sore.
" Udah jam 5 sore. Aku harus pulang. Kasihan Massu menemani adikku dari tadi pagi." Ucapku.
" Massu? Maksudmu Massu berada di rumahmu sejak tadi pagi??" Tanyanya terkejut.
" Iya. Tadi pagi ia datang ke rumah. Karena Ryo sendirian, jadi aku memintanya untuk menemaninya." Jelasku.
" Boleh aku antar kau sampai rumah?" tanyanya tiba-tiba.
" Ehhh, tidak usah. Aku mau pulang sendiri aja." Tolakku.
" Ayolah. Aku hanya ingin mengantarmu pulang. Aku tidak mampir kok." Pintanya.
" Terserah kaulah. Aku buru-buru nih." Ujarku padanya.
Aku pun bergegas turun dan mengambil tas di kelas. Tego masih berada di belakangku. Lalu, ia berada di sampingku. " Jalanmu cepat juga ya . . ." katanya tiba-tiba. " Kan sudah ku bilang kalo aku lagi buru-buru." Jawabku.
Dalam perjalanan, suasana hening pun tercipta. Karena diantara kami tak ada yang memulai pembicaraan. Sampai tiba di rumahku pun, kami tetap diam.
" Soal ajakanku tadi pagi, ku ganti jadi malam nanti. Gimana?" katanya tiba-tiba.
" Ajakan yang mana?" tanyaku bingung.
" Aku mau kau temenin aku pergi nanti malem. Bisa kan?" tanyanya penuh harap.
" Aku usahain dech." Ucapku.
" Ya sudah . . . Jika kau menyetujuinya, cepat kabari aku lewat nomor ini ya ." ucapnya padaku.
" Baiklah! . . . Arigatou udah nganterin aku ya." Ucapku padanya.
" Nggak masalah kok." Jawabnya sambil membalik badan.
Tego pun pergi dan aku masuk ke rumah. Aku melihat Massu dan Ryo sedang tertidur di ruang tengah. Sepertinya, mereka kelelahan. Aku pergi ke kamar untuk mengambil selimut. Aku pun menyelimuti mereka. Baru pertama kali ini, aku melihat lagi keceriaan pada wajah Ryo.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Aku bergegas ke dapur untuk memasak makan malam. Setelah itu, aku menyiapkan makan malam. Lalu, membangunkan Massu dan Ryo. Kami bertiga duduk bersama di meja makan dan memulai makan malam. Setelah itu, Massu pamit untuk pulang karena ada kuliah malam.
" Ryo, Luna, aku pamit dulu ya. Aku harus kuliah." Ucap Massu pada kami.
" Kak Massu, besok maen lagi ya ." ujar Ryo
" Ryo, Massu kan tidak bisa datang ke sini tiap hari untuk bermain denganmu." Gumamku menasehati Ryo.
" Nggak pa-pa kok. . . Kalo memang aku punya waktu, aku akan mampir ke sini . . . Nanti kita maen lagi. Ya kan, Ryo?"
" Iya . . . Ku tunggu ya kak. . ." ucap Ryo senang. Lalu, aku menyuruh Ryo masuk dan tidur.
" Arigatou ya, Massu . . . Kamu dah mau nemenin Ryo seharian."
" Doitashimashita . . . Kamu juga udah bolehin aku berada di rumahmu seharian." Ucapnya.
" Woi Luna . . ." terdengar suara dari kejauhan.
" Tego? Kenapa kamu ada di sini?" Tanya Massu terkejut.
" Aku mau . . . Auu, ittai." Ucap Tego kesakitan.
Sebelum Tego meneruskan perkataannya, aku menginjak kakinya dengan keras.
" Kau mau apa, Tego?" Tanya Massu penasaran.
" Dia cuma mau mampir kok . . . Oh ya, bukannya kau harus segera kuliah?" tanyaku padanya.
" Oh begitu . . . Ya sudah!!! Aku pulang dulu ya." Ujarnya sambil tersenyum.
" Hati-hati ya . . ." ucapku padanya.
Pandanganku teralih pada Tego.
" Kenapa kau ke sini? Kan aku belum mengabarimu kalo aku setuju?" tanyaku.
" Aku menunggu telponmu. . . Tapi, kamu nggak telpon aku kan!!! Makanya, aku datang ke sini untuk memastikan. Jadi gimana?"
" Karena terlanjur di sini . . . Baiklah. Aku akan pergi." Ucapku.
" Benarkah? Kau serius kan?" tanyanya ragu.
" Iya . . . Aku serius. Tapi, aku harus bilang dulu sama Ryo."
" Ok . . . Aku sabar menunggu kok." Ujarnya tersenyum.
………………………………………………………………………………………
Malam itu, aku diajak Tego pergi ke Tokyo Tower. Karena aku sering mengalami hipoksia jika berada ditempat yang tinggi, aku nggak mau ikut naik. Tapi, Tego terus memaksaku. Katanya, ia ingin menunjukkan suatu tempat paling indah di Tokyo ini. Tapi, aku tetap menolaknya. Hingga akhirnya, aku nyerah dengan senyumannya yang sangat manis. Waktu aku naik lift, kepalaku serasa berputar-putar dan aku hampir pingsan. Tiba-tiba, Tego memegang bahuku dan menuntunku keluar lift ketika sudah sampai ke lantai atas.
" Kuat juga kau menuntunku ke sini. Padahal kan kau sendiri seperti kapas. Ringan banget. . . Mungkin jika ada angin kencang, kau akan terbawa olehnya. . ." ledekku sambil tertawa keras.
" Ehhh . . . kamu berani meledekku lagi ya. . . Kalo ku tinggal disini sendirian, baru tau rasa!!!" ancamnya.
" Tinggalin aja. . . Aku berani kok!!" ucapku lantang.
" Beneran?? Ya udah . . . aku pergi ya. . ." ucapnya sambil membalik badan.
" Ehhhh, jangan gitu donk. . . Aku cuma bercanda kok. Mana berani Q sendirian di sini! Kalo hipoksia Q kambuh lagi, terus aku pingsan gimana? ucapku kesal.
" WEEEKKKKK!!!! Kau tertipu lagi!!! Mana mungkin Q bisa ninggalin cewek linglung kayak kamu ditempat kayak gini." Ucapnya tertawa keras sambil berjalan ke arahku.
" Aku marah!!" gumamku.
" Mana ada orang yang kalo marah tuw bilang ma orang yang ia marahin. Cewek aneh. . ." ucapnya.
" Kenapa sich Q selalu percaya dengan semua omonganmu? Nyebelin!!!." Teriakku.
" Gomen nee . . . Sini ikut aku. . . Q kan pengen nunjukin something ma kamu." Ia menarik tangan Q menuju ke teropong. " Kau lihat bukit paling tinggi itu?"
Saat aku melihat ke teropong, aku tak menjawab pertanyaannya, karena kepalaQ pusing akibat hipoksia yang Q alami. Lalu, ia memegang bahuku lagi dan mengajakku duduk.
" Luna?? Kamu nggak pa-pa kan?" tanyanya khawatir. Tapi, Q tetep diem. "Hey . . . kamu nggak pa-pa kan? " tanyanya panic.
" WEEEEKKKKK!!!! Kena!!! 1 sama. . .Kita seri!!!" ucapku sambil meledeknya.
" Aku nggak suka sikapmu!!! Bikin takut aku tau nggak!!! Ku kira kau pingsan atau hal buruk menimpamu tapi aku nggak tau apa-apa tuk menolongmu." Ujarnya marah.
" Gomen nee udah buat kamu takut." Ucapku menyesal.
" Horeeee!!!! Tertipu!!! Aku berhasil menipumu." ucapnya girang. " Tapi, jangan ulangi sikapmu tadi ea. . .Bikin khawatir!!" gumamnya sambil tersenyum.
" Ea . . . Janji!!!" ucapku sambil tersenyum." Yukk lihat teropong!" ajakku. "Aku mau lihat bukit yang kau tunjuk tadi." Ucapku.
" Beneran nie? Nggak kan pusing lagi kan?" tanyanya ragu.
" Iya . . . Nggak kan pusing lagi kok. Yuukkk!!!"
Tego pun menunjukkan bukit itu padaku.
" Hey, laen waktu ajak aku ke sana donk." Pintaku.
" Memang niatku ngajak kamu ke sana." Ucapnya.
" Baiklah. . . Aku mau. Jadi kapan ke sana?" tanyaku.
" Hi__mi___tsu !!!"
" ahhhh . . . kenapa?" tanyaku kesal.
" Kan kejutan. . . Jadi, sabarlah. He__He__he" Ucapnya sambil tertawa.
Setelah itu, kami melakukan petualangan malam. Kami pergi ke tempat-tempat yang aneh tapi mengasyikkan. Sampai-sampai, aku pulang pukul 3 pagi. ………………………………………………………………………………………
Masuda in act. . .
"Huuuffft___kenapa sich hari-hariku sangat membosankan. Kenapa pulang kuliah aku harus jadi pelatih di sanggar otousan sich??? Walaupun otousan ada di Nagasaki, kenapa ia mesti menyuruhku jadi pelatih dance di Tokyo! Kan jadi nggak bebas." Kataku dalam hati.
Seperti hari-hariku yang lalu, pulang kuliah adalah hal yang paling membosankan. Aku selalu disuruh ayah untuk mengajar dance di sanggar. Sampai suatu hari, aku disuruh untuk melatih seorang anak bernama Ryosuuke. Awalnya, aku tidak tertarik untuk mengajar dance di sanggar. Tapi, ketika bertemu dengan Ryosuuke, aku jadi berniat untuk mengajarinya dance. Ia anak yang sangat menarik dan berbakat. Anehnya, saat bersamaku, ia suka sekali bercerita soal kakak perempuannya yang bernama Luna. Tapi, dari kebiasaannya itulah, aku jadi dekat dengannya.
Sore harinya, Ryosuuke dijemput oleh kakaknya, Luna. Waktu melihat Luna, aku sangat penasaran. Karena kata Ryo, dya dan kakaknya hanya tinggal berdua. Huuwaaa___ waktu awal perkenalanku dengan Luna, dya manggil aku dengan sebutan pak. Emang wajahku terlihat seperti bapak-bapak apa! Kan aku masih imut-imut ( narsis mode on ). Dasar!!!!
Weekend !!!
" Hey, Yamashita-kun . . . pergi yukkk. Aku bosan." Ajakku pada Yamashita.
" Gomen nee Masuda-kun . . . Aku ada janji sama Anko." Jawab Yamashita.
" Anko?? Dare desu ka?" tanyaku penasaran.
" Hi__mi__tsu. Aku pergi dulu ea."
" Woi!!! Yamashita-kun . . .Uhhh sial, sudah pergi lagi. . ." ucapku.
Lalu, aku menemui Shige di rumahnya.
" Hey, Shige, pergi yukkk. . ." ajakku pada Shige.
" Nggak ahh, malas. . . Aku mau belajar. . . Besok senin ada ujian."
" Jadi nggak bisa ea. . . Ahhh. . . kenapa pada nggak bisa sich!!!
" Udah ngajak Tegoshi?" Tanya Shige padaku.
" Palingan dya juga lagi masak. Dya kan kalo akhir pekan sering experiment masakan baru." Ujarku.
" Mendingan kamu pergi sendirian aja. . ."
" Nggak seru ahhh. Masak perginya sendirian." Ujarku.
" Apa kamu mau temenin aku belajar?"
" Nggak ahhh!!! Aku lagi nggak minat belajar. Ya udah dech . . . Aku pergi dulu ea." Pamitku pada Shige.
Uhhh___nyebelin. Kenapa anak-anak NEWS nggak ada yang bisa diajakin pergi sich. Kan boring kalo pergi sendirian. . .
Bruuuukkkk___
Uwaaaa___aku nabrak cewek dan barang belanjaannya berantakan semua. . .
Dengan segera aku membantu membereskan barang belanjaannya yang berantakan. Lalu, aku meminta maaf dan membantunya berdiri. Aku melihat wajahnya dan memanggilnya.
" Luna . . .nggak pa-pa kan? Tanyaku."
" Massu . . ." jawabnya.
Lalu, aku bertanya padanya, kemana ia akan pergi. Dan ia menjawab kalo dia sedang kebingungan dan nggak tau tujuan perginya. Lalu, aku menarik tangannya dan mengajaknya pergi ke taman. Sebelum pergi ke taman, aku mengajaknya membeli ice cream. Dya itu kalo dilihat-lihat lucu banget lhoo!!! Kayak boneka. Kalo bisa ku bawa pulang, pasti bakalan ku bawa dech. . . He__he__he.
Di taman, aku banyak mengajukan pertanyaan ma Luna. Ternyata, dibalik penampilan Luna yang santun, dya tuw cewek yang enerjik, tomboy, dan cerewet. Mirip Nana ya. Uhhh__kalo aja aku bisa muter balik waktu. Akan ku perbaikin kesalahan ku yang dulu dan aku janji aku bakalan jagain dya. Aku jadi rindu Tomo Gakuen, tempat Qt pertama kali ketemu.
Flash back to SD . . .
Ini adalah hari pertamaku di Tokyo. Uhhh__kenapa sich ayah harus pindah ke Tokyo. Kan lebih enak di Nagasaki. Di Tokyo ini, aku sekolah di Tomo Gakuen kelas 4 SD. Waktu pindah ke Tokyo, aku masih berumur 10 tahun.
" Ohayou Gozaimasu . . . Hajimemashite ore wa Takahisa Masuda desu. Aku murid pindahan dari Nagasaki. Douzo yoroshiku onegaishimasu. . ." salamku pada kelas baruku.
" Takahisa, kamu duduk di sebelah Eurika ya. . ." ucap guru padaku.
" Hai sensei." Ucapku.
Aku pun menuju ke bangku baruku. Tempatku bersebelahan dengan seorang cewek.
" Hey . . . Ore wa Massu. Yoroshiku. . ." salamku.
Tapi, cewek ini nggak jawab salamku maupun mandangin aku. Emang wajahku seburuk itu ea. Huuuhhhh___sebel banget!!! Masak kesan pertama pindah sekolah kayak gini sich!!! Dengan kesal, aku pun duduk. Sepanjang pelajaran, aku tidak berbicara dengan dya.
Kringggggggggg . . . Bel istirahat pun berbunyi. Anak-anak segera berhamburan keluar kelas.
" Hey, kau nggak ke kantin?" tanyaku pada cewek di sampingku.
" Nggak." Jawabnya tanpa memandangku.
Uhhhh___nyebelin banget sich nui cewek!!! Ujarku dalam hati.
Aku pun pergi ke kantin sendirian. Lalu, membeli makanan dan duduk sendirian. Rasanya nggak enak banget dech. Masak hari pertama di sekolah, aku nggak punya temen sama sekali. Beberapa saat kemudian, ada seseorang yang mendekat di mejaku.
" Hey, kamu murid baru yang berasal dari Nagasaki tuw ea?" tanyanya padaku.
" Hai. . . Ore wa Takahisa Masuda. Anata wa?" tanyaku padanya.
" Yamato Tokito." Gumamnya.
" Jadi, kenapa kamu bisa pindah ke Tokyo, Takahisa?" tanyanya.
" Jangan panggil aku Takahisa, Tokito. Aku nggak terlalu suka dipanggil nama keluarga. Panggil Massu aja. Kan kelihatan akrab." Ucapku.
" Baiklah. . . Jadi, kenapa kamu yang dari Nagasaki bisa pindah ke Tokyo?"
" Aku cuma mengikuti ayahku. Ayahku dipindah tugaskan ke Tokyo." Jelasku.
" Gimana kesanmu tentang Tomo Gakuen ini?" tanyanya.
" Sekolah yang bagus kok. Tapi, hari pertamaku disini nggak terlalu nyenengin." Ujarku.
" Doushiteee?" tanyanya heran.
" Soalnya, aku harus duduk di sebelah cewek yang nyebelin." Jelasku.
" Maksudmu Eurika Nana?" tanyanya.
" Nggak tau namanya. Yang jelas, dya tuw cewek paling nyebelin yang pernah aku temui." Ucapku marah.
" Maklum sajalah. Eurika itu putri bangsawan. Dya jarang banget bergaul sama orang laen. Soalnya tiap kali pulang sekolah, ia sering dijemput ma bodyguardnya. Itu juga yang buat kami takut buat deket-deket ma dya." Jelasnya.
" Maksudmu, selama bersekolah disini, dya nggak punya temen sama sekali gitu?" tanyaku.
"Iya. . . Makanya, dya jadi sangat tertutup sama orang laen."
Kringgggggg. . . Bel tanda masuk telah berdering.
" Hey, Tokito, kita masuk kelas bareng yukkk!!!" ajakku.
" Ok. . . Matte!!!. Aku mau habisin makananku dulu." Ujarnya.
" Ayo. Kantin udah sepi lho!! Kalo terlambat masuk, kita bakalan dihukum." Jelasku.
" Iya. . . Massu." Jawabnya.
Semenjak itu, aku dan Tokito berteman akrab. Tokito adalah teman pertamaku di Tomo Gakuen ini. Dya anak yang nyenengin. Aku seneng bisa temenan ma dya.
Pelajaran pun dimulai. Huuuufffftttt___membosankan!!! Ujarku dalam hati. Semua pelajaran yang ku terima di Tomo Gakuen ini, udah pernah ku pelajari di Santa Gakuen.
Kringggggggggggg. . . bel pulang telah berbunyi. Murid-murid bergegas pulang. Semua murid udah pulang. Tinggal aku sendirian di kelas. Aku masih membereskan buku-bukuku. Lalu, aku pun bergegas pulang.
Ketika melewati taman, aku melihat Eurika Nana sendirian. Aku nggak tau dya lagi ngapain. Lalu, aku pun mendekatinya.
" Sedang apa? Kok lum pulang?" tanyaku tiba-tiba.
" Nggak " ucapnya ketus.
" Kenapa sich kau itu? Sejak pertama aku mengajakmu bicara, jawabanmu selalu "nggak". Emang kamu itu nggak punya kata-kata lebih bagus buat jawab perkataanku apa." Ucapku ketus.
" Kalo kamu nggak suka sama jawabanku, kenapa kamu tetep aja mau bicara sama aku?" tanyanya kesal.
" Emang salah kalo aku mau kenal ma kamu?" tanyaku.
" Salah." Ucapnya sambil pergi meninggalkanku.
" Eh__matte!!! Mau ke mana?" ujarku sambil menarik tangannya.
" Bukan urusanmu kan. Lepasin tanganku sekarang." Ujarnya marah.
" Kamu tuw nyebelin ea." Ucapku tiba-tiba.
Tiba-tiba, Nana terjatuh dan nafasnya nggak beraturan. Aku panic dan langsung membawanya ke UKS. Saat di UKS, nggak ada seorang perawat pun. Aku pun semakin panic. Aku bingung harus ngapain. Lalu, aku pun meletakkannya di kasur perawatan. Aku memberanikan diri untuk mengacak-acak tasnya. Siapa tau ada obat di dalamnya.
Akhirnya, aku menemukan obat dalam tasnya. Obat itu seperti tabung oksigen. Segera saja aku menyuruhnya untuk menghirup tabung oksigen itu. Setelah keadaannya tenang, dya pun tertidur. Aku masih menungguinya di UKS. Ketika hari menjadi petang, ia terbangun.
" Kamu baik-baik saja kan, Nana?" tanyaku.
" Memang aku kenapa?"
" Kamu tadi pingsan, Nana. Langsung aja aku bawa kamu kesini. Kamu punya penyakit asma ya?" tanyaku.
" Bukan urusanmu."
" Kenapa kamu nyembunyiin penyakitmu? Kalo kambuh kayak tadi kan bahaya. Memang orang tuamu nggak jemput kamu ya?" tanyaku.
" Cerewet!!!" ucapnya sambil berlalu.
" Matte___Gomen nee. . . Ku antar pulang ya. Ini kan udah hampir malam." ucapku sambil menarik tangannya.
" Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri."
" Aku akan tetep nganterin kamu walaupun kamu nolak. Aku kan cowok. Masak mbiarin cewek pulang sendirian."ucapku masih memegang tangannya." Ayo. . rumahmu dimana?" ucapku sambil berjalan.
Kami pun berjalan dalam hening. Kami nggak berbicara selama perjalanan menuju rumah Nana. Setelah berjalan 30 menit, kami sampai di rumah Nana. Rumahnya gede lho. Mewah lagi. Lalu, Nana masuk ke rumahnya dan aku pun langsung berbalik untuk pulang.
" Takahisa . . ." panggilnya.
" Nani??"
" Arigatou. . ." ucapnya sambil tersenyum
" Doitashimashita. . . Mata Ashita" ucapku sambil melambaikan tangan.
………………………………………………………………………………………
Seminggu setelah kejadian itu, hubunganku sama Nana tetep nggak berubah. Ia tetep aja cuek saat ku ajak bicara. Aku nggak tau apa masalahnya. Tapi sikapnya itu sangat nyebelin. Terkadang aku juga berfikir, apakah ini yang menyebabkan dya nggak bisa punya temen. Hari ini, aku berangkat sekolah seperti biasa. Segera setelah sampai, aku meletakkan tasku dan langsung pergi menuju tempat duduk Tokito. Hari ini, kami berencana untuk pergi memancing. Kami akan pergi bersama ayah Tokito. Kami sedang mendiskusikan rencana memancing kami. Tiba-tiba, terdengar suara bel tanda masuk berbunyi. Segera aku kembali ke tempat dudukku. Hari ini, aku memutuskan untuk tidak mengajak Nana berbicara. Aku sebel banget kalo ngajak dya bicara. Pasti jawabannya "nggak" ditambah sikapnya yang cuek padaku.
Hari ini, pelajaran berlangsung sangat lambat. Aku sangat bosan waktu berada di kelas. Aku ingin segera pulang dan mempersiapkan peralatan mancingku.
Kringggggggggg. . .bunyi bel tanda pulang. Aku bergegas membereskan bukuku. Dan Tokito berteriak padaku.
" Massu, Qt bertemu di danau jam 3 sore ya." Ucap Tokito.
" Yosh . . . Yosh . . . Sampai ketemu di sana ya, Tokito" teriakku menimpali.
Sebelum pulang, aku mengumpulkan tugas-tugasku yang belum selesai. Hari ini, cuacanya mendung. Ketika melihat jam tanganku, jam telah menunjukkan pukul setengah 3.
" Aku harus bergegas. Aku tidak boleh terlambat." Ujarku dalam hati.
Tiba-tiba ponselku berbunyi.
" Moshi-moshi " ucapku.
" Moshi-moshi, Massu. Ini aku, Tokito." Jawabnya.
" Nan desuka, Tokito?" tanyaku.
" Massu, ditempat pemancingan hujan deras. Kayaknya, rencana mancing bersama kita batal dech. Nggak pa-pa kan, Massu?" tanyanya.
" Oh begitu ya . . . Ya sudah. Lain waktu aja ya, Tokito." Ucapku kecewa.
" Iya. . .Udah dulu ya, Massu. Aku cuma mau bilang hal ini aja kok." Ucapnya menutup pembicaraan.
" Hai. Arigatou dah ngabarin aku." Ucapku sambil menutup telepon.
" Uhhhh__sial banget. . . Kenapa disana ujan deres sich. Padahal kan disini baru mendung" keluhku dalam hati.
Tiba-tiba, butiran-butiran air hujan turun dan membasahi bajuku. Aku segera berlari ke teras kelas. Sesampainya di depan kelas, aku melihat Nana duduk sendirian di dalam kelas. Lalu, aku masuk ke kelas dan mendekatinya.
" Kenapa nggak pulang? Kan udah sore." Ujarku.
" Bukan urusanmu." Ujarnya ketus. " Kau sendiri juga masih disini."
" Kalo aku sich mau pulang dari tadi. Tapi, karena ujan deres, ya aku berteduh dulu lah." Jawabku ketus. " Kau tetep nggak berubah ya. Tetep nyebelin!!!" ucapku kasar.
" Kalo kamu nganggep aku nyebelin, kenapa kamu masih mau ngajakin ngomong aku." Ucapnya marah.
Dengan spontan, aku mendekatinya dan menarik tangannya dengan kasar.
" Karena aku sebel sama kamu. Semenjak ketemu kamu pada hari pertamaku pindah ke Tomo Gakuen, aku selalu penasaran ma kamu. Kamu tau nggak? Sikapmu itu selalu menggangguku." Ucapku keras sambil memengang tangannya erat.
" Sakit. . . lepasin." Pintanya
" Nggak. . . Aku nggak mau lepasin." Ucapku.
" Lepasin nggak!!! Kalo tetep nggak mau, Aku bakal tonjok mukamu!!!" ucapnya kasar.
" Tonjok aja. Aku nggak takut ma kamu"
Tiba-tiba, sebuah tonjokan melayang ke mata kiriku.
" Itttaiiiiiiiii. . ." teriakku sambil melepas peganganku di tangan Nana.
" Rasain." Ucapnya sambil berlari keluar kelas.
Aku masih mengerang kesakitan. Tonjokan gadis itu, benar-benar menyakitkan. Lalu, aku memutuskan untuk mengejar Nana keluar kelas. Diluar masih hujan. Jadi, aku pikir kalo dya nggak akan pergi jauh. Saat aku keluar kelas, aku melihat Nana pingsan di koridor sekolah. Nafasnya tersengal-sengal. Aku berlari mendekatinya dan membawanya ke UKS. Seperti minggu lalu, sekolah sudah sepi. Tapi hujan nggak kunjung berhenti. Aku menunggui Nana di UKS. Setelah ia menghirup tabung oksigennya, dya tertidur. Mungkin dya kecapaian. Saat melihat jam, waktu telah menunjukkan pukul 7 malam. Saat menunggui Nana di UKS, aku tertidur karena lelah. Ditambah mata kiriku yang memar.
" Takahisa . . ." panggil seseorang.
Dengan keadaan setengah sadar, aku menjawabnya.
" Nani? Dare desuka?" tanyaku.
" Takahisa. . ." teriaknya.
Aku pun terbangun karena teriakannya.
" Nani o?" teriakku.
" Bangun. . . Udah malam. Kamu nggak pulang?" ujarnya.
" Nana, kamu udah sadar. Syukurlah. . ." ucapku sambil berteriak.
" Kamu bisa nggak sich bicara lebih pelan. Pendengaranku kan masih baik." Pintanya.
" Hmmmm___Oke. . ." gumamku setuju.
" Takahisa, arigatou. Kau menolongku lagi. Padahal aku abis nonjok mata kirimu."
" No problem, Nana."
" Kamu nggak pulang?" tanyanya.
" Aku kan sedang menunggu." Ujarku.
" Siapa?"
" Kau. Aku mau nganterin kamu pulang." Ucapku.
" Nggak usah. Aku bisa pulang ndiri. Lagian ujannya udah berhenti kok. Ima nanji desuka?"
Sambil melirik jamku, aku menjawab, " Pukul 8 malam. Bahaya kan kalo cewek pulang sendirian kayak kamu. "
" Please Takahisa, jangan terlalu baik sama aku. Karena aku nggak mau kamu kasihan ma aku karena penyakit asmaku." Ucapnya padaku.
" Kasihan. . . Aku nggak pernah kasihan ma kamu. Aku hanya penasaran dengan sosokmu. Jadi, aku nggak pernah nganggap kamu cewek biasa. Kamu berhasil buat aku kesakitan, berarti kamu cewek yang kuat." Ujarku.
" Kalo gitu, kamu pulang. Aku nggak mau kamu sakit gara-gara aku. Dan biarin aku pulang sendiri. Oke?" jelasnya.
" Baiklah. . . Aku nggak maksa kok. Tapi, kita keluar bareng ya." Pintaku.
Ia mengangguk sambil tersenyum padaku. Aku membantunya membereskan tasnya. Lalu, kami berjalan keluar sekolah bersama. Setelah itu, ia membalik badan dan pulang menuju rumahnya. Saat aku berjalan pulang. Aku melihat otousan di jalan. Saat otousan melihatku, ia segera menghampiriku.
" Tee-chan, kamu kemana saja?" Tanya otousan.
" Gomen nee otousan. . . Tadi ujan deres. Jadi aku berteduh di sekolah hingga ujan reda." Jelasku.
" Tapi kamu baik-baik saja kan?" Tanya otousan.
" Hai. . . arigatou otousan." Ucapku.
" Ayo pulang. Otousan udah masak lho!!! Qt makan bareng ya."
" Emang otousan masa apa? Enak nggak?" tanyaku meragukan.
" Kamu menghina sekali masakan otousan. Otousan kan udah masakin makanan buat kamu sejak 5 tahun yang lalu." Ucap otousan sambil mencubit kedua pipiku.
" Ittaiiiiiiiiiiii. . ." teriakku. " Oke kalo gitu. . . Cepat otousan. . . Nggak sabar mau makan masakan Otousan."
Aku dan Otousan berjalan dengan riang. Aku senang punya chichi seperti Otousan. Ia sangat perhatian denganku. Semenjak okaasan meninggal 5 tahun yang lalu, aku udah membiasakan diri menjalani hidup tanpa okaasan. Otousan sangat memperhatikan diriku melebihi dirinya. Ia nggak mau kehilangan aku setelah kehilangan okaasan. Antara aku dan okaasan memiliki kesamaan, yaitu sama-sama berfisik lemah. Tetapi, aku selalu bilang sama otousan kalo aku itu kuat. Mungkin karena fisikku yang makin tembem karena kebanyakan makan masakan otousan. He__he__he. Dulu okaasan meninggal waktu okaasan terserang flu spayol. Maka dari itu, jika aku terkena flu, otousan pasti sangat khawatir dan bingung. Padahal aku selalu bilang kalo aku cuma flu biasa dan aku akan segera sembuh. Tetapi, otousan nggak pernah percaya.
Tak berapa lama, kami pun sampai di rumah. Waktu sampai di rumah, aku langsung mengunjungi meja makan. Tetapi, otousan menarik tasku dan menyuruhku untuk mandi dan ganti baju.
" Eits. . . masuk kamar terus mandi, ganti baju, baru makan." Perintah otousan.
" Tapi kan uda malem." Ucapku.
" Biar badanmu nggak kotor dan menghindari terserangnya penyakit, Tee-chan" nasihat otousan. " Setelah itu, baru boleh makan." Kata otousan.
" Uhhhh___tapi kan laper." Ucapku kesal.
" Eits___nggak boleh membantah omongan otousan lhoh. Nanti makanannya otousan makan sendiri lhoh!!!" ancam otousan.
" Nggak mau. . . mau makan__laper." Kataku memohon.
" Makanya bergegaslah." Saran otousan.
Aku segera berlari menaiki tangga menuju kamarku. Akupun melempar tasku ke atas tempat tidur dan segera mengambil handuk. Aku bergegas pergi ke kamar mandi. Setelah selesai, akupun melempar handuk itu ke atas tempat tidurku dan melompat dari tangga menuju tempat makan.
" Sudah berapa kali otousan bilang, kalo kamu nggak boleh lompat-lompat kayak tadi!!" ucap otousan menasihati.
" Doushiteee???" tanyaku.
" Kalo kamu jatuh terus sakit gimana? Otousan kan khawatir." Jelas otousan.
" Tenanglah otousan. Kenyataannya sekarang aku sehat dan baik-baik aja kan. Aku nggak mau otousan terlalu khawatir sama aku. Sesekali, otousan harus khawatir sama diri otousan ndiri. Kan aku udah gede. " ucapku sambil tersenyum lebar.
" Sekarang anak otousan uda pandai menasihati ya.." ucap otousan sambil mencubit kedua pipiku seperti yang sering ia lakukan padaku.
" Itadakimasu. . ." ucapku mengalihkan perhatian.
Selesai makan, aku dan otousan mencuci piring bersama. Setelah itu, aku dan otousan ngobrol bareng. Otousan bertanya tentang sekolahku selama berada di Tokyo. Tak terasa jam telah menunjukkan pukul 11 malam. Jadi, otousan menghentikan obrolan dan menyuruhku tidur.
………………………………………………………………………………………
Keesokan harinya, aku berangkat ke sekolah. Hari itu, aku merasa Nana mulai berubah padaku. Entah apa alasannya, hari ini dia menyapaku dengan senyumannya. Spontan, aku kaget sekaligus bingung.
" Ohayou . . ." ucapnya.
" Ohayou . . ." ucapku sambil mendekatinya.
" Matamu uda sembuh kan?" tanyanya.
" Doushiteeee???" tanyaku sambil memegang dahinya. " Normal kok. . .Nggak panas. . .Nani???" gumamku keheranan.
" Gomen nee. . . kemarin nonjok kamu. Mata kirimu nggak pa-pa kan? Kamu mau nggak jadi temenku? Arigatou selama nih dah nolongin aku." Ucapnya panjang lebar.
" Majide??" ucapku masih keheranan.
" Hai. . .soudesu."
" Hummmm . . . aku nggak mau jadi temenmu!!!" ucapku ketus.
" Hufffft . . . uda ku duga." Ucapnya sambil menundukkan kepala.
" Aku nggak mau jadi temenmu karena aku maunya jadi sahabatmu." Ucapku sambil tersenyum dan menundukkan kepalaku lebih bawah dari kepalanya.
" Hontouni??? Soudesuka???" tanyanya semangat.
" Hai . . ." ucapku mengulangi.
" Arigatou, Takahisa . . ." ucapnya.
" Iie . . . bukan Takahisa, demo Massu . . . Oke?" tanyaku. Ia pun mengangguk sambil tersenyum.
Hari ini sangat menyenangkan. Niatku sich hari ini, aku ingin meminta Nana untuk mengajakku keliling Tokyo. Walaupun uda seminggu lebih aku berada di Tokyo, tapi otousan nggak pernah ngajakin aku keliling Tokyo. Makanya, aku ngajak Nana buat nemenin aku pergi.
" Hari ini mau ikut aku nggak?" tanyaku pada Nana.
" Ke mana?" tanyanya.
" Ikut aku keliling Tokyo. Aku kan pendatang baru, jadi aku belum begitu mengenal Tokyo." Jelasku.
" Eits, kau tau kan kalo aku juga nggak kenal Tokyo. Walau aku orang Tokyo asli." Ucapnya tersenyum.
" Oke . . . karena Qt sama-sama nggak tau, kita bertualang berdua aja. Gmn?" tanyaku.
" Ngggg . . . oke!!!" ucapnya sambil tersenyum.
Kringgggg!!!! Bel pulang sekolah telah berbunyi. Aku segera membereskan buku-bukuku untuk segera menghampiri Nana. Tiba-tiba seseorang memanggilku.
" Massu." Teriak Tokito.
" Nani, Tokito?" tanyaku.
" Kyo wa, aku dan otousan mau mancing lagi. Karena kemarin acara mancing Qt batal, gmn kalo diganti hari ini?" Tanya Tokito bersemangat.
" Gomen nee Tokito. Aku nggak bisa pergi mancing hari ini. Soalnya aku ada janji lain. Nggak pa-pa kan?" tanyaku.
Dengan wajah yang agak kecewa, ia pun menjawab, " Hmmm. Ya sudah nggak pa-pa kok. Tapi laen kali mancing bareng ya. Aku mau ngajakin kamu ke tempat mancing favoritku. Oke?"
" Hai." Ucapku sambil tersenyum lebar.
" Mata Ashita Tokito." Ucapku sambil melambaikan tangan.
" hai. . ." jawabnya sambil melambaikan tangan dan tersenyum.
Setelah itu, aku bergegas menuju ke bangku Nana dan melambaikan tanganku.
" Yukkkkk!!!!" ajakku. " Aku dah nggak sabar nie." Ucapku kegirangan.
" Kamu nggak sabar buat keliling Tokyo atau nggak sabar mau pergi sama aku?" godanya.
" Hmmmmm. . .menurutmu?" tanyaku sambil tersenyum.
" Hmmmmm. . . may be kedua-duanya. He___he___" jawabnya tertawa.
Kami pun bergegas keluar sekolah. Lalu, petualangan pertama kami, kami akan pergi ke Tokyo Tower. Huuufffft. . . Padahal aku hipoksia, ehhh, malah diajakin Nana buat naik. Katanya, dari dulu ia ingin naik Tokyo Tower. Soalnya dia mau melihat kota yang sudah ia tinggali selama 10 tahun dari atas.
" Ayo Massu. . . Aku dah nggak sabar buat naik ke atas nie." Ucapnya padaku.
" Iya. . .Iya. . ." ucapku.
" Mungkin, setelah ini, aku nggak akan manggil kamu Massu lagi." Ucapnya muram.
" Ehhhh . . . Nandesuka? Nani o? Doushiteeee?" tanyaku terkejut.
" Karena aku . . . mau . . ."
" Jangan bilang kamu mau lompat dari Tokyo tower! Kalo kayak gitu, Qt batal aja naik ke sana." Kataku memotong pembicaraan Nana.
" Sssssttttttt. . .makanya kalo ada orang ngomong jangan dipotong donk. Aku tuw tadi mau bilang kalo aku mau manggil kamu Tee-chan aja. Karena aku nggak mau manggil nama sahabat pertamaku dengan nama yang uda sering dipakai orang lain. " jelasnya panjang lebar sambil menyunggingkan senyumnya padaku.
" Ooooooo. . .ku kira kenapa. Tapi, kamu salah besar lho."
" Nande?"
" Nama Tee-chan uda ada yang pakai."
" Dare desuka?"
" Ore no otousan. He___he" ucapku bangga.
" Nee. . . nggak nyangka. He __he__he."
" Demo, cuma otousan yang manggil kayak gitu." Kataku sambil tersenyum lebar.
" Manis juga. . . " gumamnya.
" Ha__ha__ha__baru tau ya kalo aku manis." Jawabku pede.
" Plak___"
" Itttaiiii . . ." teriakku dalam lift. Semua orang melihat ke arahku. Karena bingung dan malu, aku pun tersenyum lebar sambil memegang pipi kananku.
" Nande?" tanyaku bingung.
" Nandemonai . . . cuma mau nonjok orang aja." Ucapnya ringan.
" Kenapa aku? Sakit tau. Lagian jadi cewek kok kasar banget!"
" Pertama, kamu berdiri paling deket. Kedua, memang ini sifatku. Ketiga, aku cuma mau ngukur karateku." Jelasnya kecut.
" Hah? Karate? Jadi kamu ikut karate?" tanyaku.
Tetapi, belum sempat ia menjawab, pintu lift terbuka dan orang-orang berebut untuk keluar. Aku dan Nana pun ikut terdorong keluar. Nana nggak jawab pertanyaan terakhirku. Lalu, aku dan Nana berjalan menuju ke teropong. Ternyata, Tokyo itu sangat indah. Dan aku bersyukur telah pindah ke kota ini. Walaupun aku lebih suka tinggal di Nagasaki.
" Kawaiiii nee. . ." ujar Nana kagum.
" Hai. So kawai nee. . ."
Seharian kami pergi berkeliling Tokyo. Walaupun kami agak tersesat, kami tetap senang. Waktu di tengah perjalanan, tiba-tiba asma Nana kambuh lagi. Dengan segera aku membawa Nana pulang. Setelah itu, aku pulang dengan perasaan puas dan agak khawatir.
………………………………………………………………………………………
" Tee-chan, ayo bangun." Ujar otousan sambil mengguncang-guncang tubuhku.
" Nani o? Kyou wa nichiyoubi nee. . .Aku mau tidur lagi."
" Karena ini hari minggu, otousan mau ajakin kamu maen. Otousan tau kalo kamu kesal sama otousan karena otousan nggak pernah punya waktu buat Tee-chan."
Dengan cepat aku membelalakkan mata karena kaget, " Hontouni, Otousan?" tanyaku tak percaya.
" Hai. Hontou. Makanya cepetan bangun dan mandi. Otousan mau tunjukkin tempat yang bagus."
" Yosh. . .Yosh. . .Otousan. Matte kudasai."
Dengan segera aku mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi. Setelah itu, aku bergegas untuk menuju meja makan. Kami akan sarapan terlebih dahulu baru akan pergi.
………………………………………………………………………………………
" Kita mau pergi ke mana Otousan?" tanyaku penasaran.
" Nanti kan juga tau. Tempat yang istimewa."
" Seistimewa apa?"
" Himitsu. . ." ucap Otousan sambil tersenyum lebar.
Dalam perjalanan, aku tidak bisa duduk diam. Saking senangnya, aku sampai jatuh dari tempat dudukku. Orang-orang di bus pun mentertawakanku. Otousan jadi bingung dan memarahiku. Beberapa saat kemudian, kami sampai di tempat tujuan. Kami pergi ke taman dan di taman itu, ada sebuah danau. Danau itu sangat indah.
" Kawaiii nee . . ." gumamku
" Hai. . .Tee-chan mau naik bebek-bebekan itu nggak?"
" Yosh. . .Yosh. . ." jawabku bersemangat.
Kami pun menggenjot pedal bebek-bebekan itu. Aku berusaha menyeimbangkan gerakanku dengan gerakan Otousan. Awalnya aku sangat takut. Aku takut kalo jatuh di air karena aku nggak bisa berenang. Tapi, Otousan janji kalo dia akan nyelamatin aku jika aku jatuh ke air. Setelah puas, aku melanjutkan jalan-jalan kami. Otousan membelikanku ice cream. Setelah itu, otousan ngajakin aku makan di restoran.
" Otousan tau tempat ini darimana?" tanyaku memulai pembicaraan.
" Otousan diajakin temen otousan buat keliling Tokyo. Katanya, ia mau memperkenalkan tempat-tempat di Tokyo yang bagus kepada Otousan. Oh iya. . Nanti malam kamu mau ikut Otousan lagi nggak?"
" Hai. . .Ke mana?"
" Himitsu. . ."
" Uhhh ___nyebelin." Ucapku sambil memanyunkan wajahku.
" Ayolah Tee-chan. . .Jangan cemberut. Kalo kamu tau ke mana Qt akan pergi, itu kan nggak asyik. Cepat makan makananmu. Setelah ini Qt pulang. Kamu harus istirahat dulu. Ini sudah jam 4 sore. Nanti malam jam 8, otousan bakal ngajakin kamu pergi lagi. Gimana?"
" Yosh. . .Yosh." ucapku bersemangat sambil menghabiskan makananku. Karena tergesa-gesa, mulutku jadi belepotan semua. Setelah itu, aku dan Otousan pulang. Kami sampai dirumah pukul 4.55 sore.
………………………………………………………………………………………
Malam harinya, Otousan mengajakku pergi lagi. Kali ini, aku diajak pergi ke pasar malam. Di sana, aku bertanding menangkap ikan dengan Otousan. Otousan kalah sama aku. Lalu, aku naik roller coaster. Rasanya sangat seru. Aku nggak pernah ngrasain perasaan seperti ini lagi sejak okasaan meninggal. Aku berharap otousan bisa selalu seperti ini. Walaupun suatu saat nanti, aku akan menjadi dewasa. Hari ini, aku terlalu senang. Aku masih ingin main tetapi, tubuhku dah nggak sanggup lagi. Jadi, otousan ngajak aku pulang. Aku bersikeras nggak mau pulang. Aku masih pengen main lagi. Aku takut kalo otousan nggak bisa kayak gini lagi. Selama ini, otousan nggak pernah menolak keinginanku. Jadi, otousan mutusin tetep disini sampai aku lelah.
" Tee-chan, pulang yukkk!!! Ini udah jam 12 malam. Besok kan harus sekolah." Ucap otousan.
" Nggak mau." Jawabku bersikeras.
" Besok ke sini lagi. . .Otousan janji kok. . ."
" Majide???"
" Hai. . .janji."
Lalu, aku pulang sambil digendong otousan.
" Otousan, aku bisa jalan kaki. Aku kan berat."
" Kamu pasti lelah Tee-chan. Nanti kamu capek. Kalo capek kan nanti gampang sakit."
" Otousan, please . . . aku kuat dan aku uda gede. Otousan kan juga harus perhatian sama diri sendiri. Kalo Otousan yang sakit gimana?"
" Otousan nggak akan sakit. Otousan kan lebih sayang kamu daripada diri Otousan sendiri. Otousan udah kehilangan okasaan. Dan kamu satu-satunya orang yang masih otousan miliki. Kalo otousan kehilangan kamu juga, otousan nggak akan pernah bisa hidup. Karena kamu adalah alasan otousan untuk tetap hidup. Kamu ngerti kan Tee-chan?" Tanya otousan sedih.
" Otousan. . .aku. . .aku baik-baik aja. Aku tau keadaanku sendiri kok. Sekarang ini, aku masih kuat buat jalan kaki. Dan aku. . .nggak akan sakit kok. . .Aku janji. . .Jadi, please. . .turunin aku. Aku mau jalan kaki."
" Baiklah. . .Otousan bakal turunin kamu."
Otousan pun menurunkan aku dan menggandeng tanganku. Kami berjalan menuju halte. Kami baru menaiki bus sekitar jam 1.30 dini hari.
" Otousan. . .arigatou nee. . ." ucapku sebelum tertidur di bahu otousan.
" Doitashimashita Tee-chan."
Aku pun terlelap di pangkuan otousan. Waktu kami turun dari bus, otousan menggendongku sampai rumah. Lalu, otousan menaruhku di tempat tidurku.
………………………………………………………………………………………
Sudah lebih dari 10 bulan aku berada di Tokyo. Persahabatanku dengan Nana pun semakin baik. Setiap hari di setiap pulang sekolah, aku selalu pertualang dengan Nana. Walaupun sering kali asma Nana kambuh ditengah-tengah petualangan kami, kami tetap gembira dan menikmati setiap perjalanan kami. Suatu hari, aku ngajak Nana buat main ke rumahku. Dan saat itu, otousan libur kerja. Jadi, kami bertiga memutuskan untuk pergi bersama. Aku sangat senang karena Nana begitu cepat akrab dengan Otousan.
Kami bertiga pergi untuk memancing. Nana sangat payah dalam urusan memancing. Katanya, seumur hidupnya, dia baru memancing saat ini. Bersama Otousan dan aku. Kami sangat bergembira hari itu. Setelah selesai memancing, aku dan Otousan mengantar Nana pulang ke rumahnya.
Keesokan harinya, aku demam dan terpaksa masuk rumah sakit. Otousan sangat khawatir melihat keadaanku. Otousan meninggalkanku di rumah sakit untuk mengantarkan surat izinku ke sekolah. Setelah itu, otousan kembali ke rumah sakit untuk menemaniku.
" Otousan. . .arigatou. . " ucapku sambil menangis.
" Tee-chan. . .Kenapa menangis?" Tanya otousan khawatir. " Ada yang sakit? Yang mana yang sakit?" Tanya otousan dengan nada yang semakin panic.
" Hmmm__Hmmm__iee. . .nggak . . . nggak ada yang sakit kok."
" Lalu kenapa kamu nangis?"
" Arigatou. . .Gomen udah buat otousan khawatir." Ucapku sambil masih menangis.
" Sudahlah Tee-chan. . .Ini kan memang tugas otousan."
Huwa. . .Huwa. . .Hikz. . .Hikz. . .Hikz. . .Aku pun memeluk otousan dengan erat.
" Tee-chan, . . Nani o? Kamu kenapa?"
" iee. . .Aku sayang otousan. Arigatou untuk perhatian otousan sama aku."
Aku masih memeluk otousan dan menangis di bahu otousan sampai aku tertidur dalam pelukan otousan. Aku senang punya chichi kayak otousan.
Keesokan harinya, Nana membolos sekolah dan pergi ke rumah sakit untuk menjengukku. Berhubung Nana ada di sini, jadi otousan ku suruh pulang untuk istirahat.
" Tee-chan. . .kok kamu lama banget berada di rumah sakit?" Tanya Nana sedih.
" Nee-chan. . .aku kan baru di sini 2 hari. Masak dibilang lama."
" Tapi kan kalo nggak ada Tee-chan nggak seru. Aku jadi nggak bisa bertualang bersama Tee-chan."
" Kenapa Ne-chan nggak pertualang sendiri aja. Nanti, kalo aku uda sembuh, Ne-chan kan bisa ngajak aku ke tempat yang kamu temuin sendiri."
" Oh iya ya. . .kalo aku bisa nemuin suatu tempat dalam petualangan sendiriku, kan tempat itu bisa aku tunjukkin ke Tee-chan sebagai kado selamat datang."
" Yosh. . .yosh. . .Oh iya Ne. . .kamu nggak pulang? Ini udah jam pulang sekolah kan?"
" Nggak mau pulang. Mau disini aja. Aku mau nemenin Tee-chan. Lagian chichi Tee-chan belum datang."
" Ya udah. Kamu nemenin aku ngobrol disini aja. Eh Ne. . .kalo Qt udah besar, kamu mau jadi istriku nggak?"
" Hah¬__majide?"
" In the future, will you marry me?"
" Cincinnya mana Tee-chan? Kan kalo mau ngelamar seorang cewek, kamu butuh cincin."
" Emangnya Ne cewek?"
Plak¬__Plak
" Ittaiiiiiiiiiiiiiii. . ." aku mengerang kesakitan dan memegangi kedua pipiku yang merah karena pukulan Nana.
" Kok dipukul sich?"
" Abisnya Tee-chan nyebelin." Ucapnya marah.
" Hey Ne-chan. . .Jangan marah. Buat cincinnya, nanti nyusul dech. Jadi jawabanmu atas permintaanku apa?"
" Hmmm___aku nggak mau jawab sekarang."
" Oke. . .aku akan menunggu jawabanmu."
Tiba-tiba, ada suara seseorang yang datang.
" Tee-chan. . .Otousan sudah datang nie. Eh. . .Nana juga masih disini ya. Maaf ya Nana. . .sudah membuat Nana menunggu lama."
" Nggak pa-pa kok paman. Aku senang bisa ada disini menemani Tee-chan."
" Oh ya. . .Ini kan sudah jam 4 sore. Paman anter pulang Nana ya."
" Iya. . .Iya. . .nanti orang tua Nana khawatir lagi." Ucapku menyetujui.
" Uhhh___Tee-chan nyebelin. . .ya udah. . .aku pulang dulu ya, Tee-chan."
" Hati-hati ya Ne-chan. Arigatou dah nemenin aku. Dahhhh!!!" ucapku sambil melambaikan tanganku.
Aku terbaring di rumah sakit selama 2 minggu. Selama 1 minggu terakhir, Nana nggak pernah menjengukku lagi. Aku takut kalo Nana marah atau terjadi sesuatu dengannya. Tetapi, saat aku bersiap-siap untuk pulang, tiba-tiba Nana dating menjengukku. Nana membantuku membereskan barang-barangku sedangkan Otousan pergi membayar biaya perawatanku.
" Tee-chan. . .Aku punya kado untukmu lho." Ucap Nana padaku.
" Hontouni Ne-chan?"
" Hai. Hontou. . .tapi, kadonya akan aku berikan jika kamu udah masuk sekolah lagi." Ucapnya sambil tersenyum.
" Kok gitu sich Ne. . .aku kan jadi penasaran. Cepat tunjukkin ke aku sekarang!"
" Hmmmm___nggak ahhh!!! Himitsu. . .kalo mau segera tau, makanya cepetan berangkat ke sekolah." Jawabnya sambil nyengir lebar.
Di tengah obrolan kami, tiba-tiba Otousan datang dan bilang kalo taksinya sudah datang. Jadi, kita bisa langsung pulang ke rumah. Tetai, sebelum kami ke rumah, kami mengantar Nana pulang ke rumahnya.
" Otousan, besok aku boleh berangkat ke sekolah kan?" tanyaku pada Otousan ketika sampai di rumah.
" Nggak boleh Tee-chan. Kamu masih harus istirahat selama 3 hari. Setelah itu, baru kamu boleh sekolah lagi."
Dengan terpaksa aku menuruti perintah Otousan untuk istirahat selama 3 hari di rumah. Sampai akhirnya, aku dibolehin otousan untuk masuk sekolah.
" Ohayou Ne-chan." Salamku pada Nana.
" Tee-chan. . ." teriak Nana sambil berlari untuk memelukku.
" Ne-chan. . .Ne. . ."
" Nani O Tee-chan?"
" Tolong lepasin dong Ne. . .Aku nggak bisa nafas. Nanti aku jadi pingsan lhoh!" ucapku sambil ngos-ngosan.
" Gomen nee ya Tee-chan. . .Saking senengnya, aku jadi nggak sadar meluk kamu kayak gitu."
" Nggak pa-pa kok Ne. . ."
Setelah itu, seisi kelas melihat kami dan bersorak-sorai ke arah kami. Aku malu sekali. Lalu, aku dan Nana menuju ke bangku kami.
Kringggggggggggggg!!!!!!!!!!!!!!! Bel istirahat bordering panjang.
" Hey Ne-chan. . ."
" Nani Tee-chan?"
" Katamu, kalo aku udah masuk sekolah, kamu bakal ngasih aku hadiah atas kesembuhanku."
" Hmmm__hai. Ne bakal ngasih hadiah itu untuk Tee kok. Demo. . ." ucapnya terputus.
" Demo???" tanyaku bingung.
" Aku akan ngasih hadiah itu buat Tee-chan kalo udah pulang sekolah. Ok Tee-chan?"
" Yosh. . .Yosh. . ." jawabku tak sabar.
Kringggggggggggggg__Kringggggggggggggggggggg!!!! Bel pulang sekolah telah berbunyi.
" Ne-chan. . .mana hadiahku?" ucapku menagih.
" Sabar donk Tee-chan. Sini. . .Sini ikut aku. Hadiahnya ada di sana." Katanya sambil menarik tanganku.
" Ehhhh___mau ke mana?"
" Udah__Tee-chan mau hadiahnya nggak? Kalo mau diam aja. Ok??"
" Hmmm___" gumamku pada diri sendiri.
Kami pun berjalan dalam keheningan. Aku nggak tau ke mana Nana akan mengajakku pergi. Beberapa saat kemudian, kami sampai di suatu jalan yang agak sepi.
" Ne-chan, ini di mana?"
" Bentar lagi nyampe kok Tee-chan. Sabar ya. . ."
Nana masih menarik tanganku dan menggenggamnya. Beberapa meter berjalan, lalu, di depan kami terhampar telaga yang luas, indah dan diselimuti dengan hawa misterius. Mungkin karena letaknya yang nggak strategis dan jarang dikunjungi orang.
" Kawaii nee. . ." ucapku kagum.
" Hai. . .ini hadiahku untuk kesembuhan Tee-chan."
" Arigatou Ne. . ." ucapku sambil memeluk Nana. " Kok Ne-chan tau kalo di sini ada telaga?" tanyaku sambil melepas pelukanku.
" Ingat nggak waktu aku nggak pernah jengukin Tee-chan di rumah sakit?"
" Hai. . .hampir seminggu Ne-chan nggak jengukin aku." Jawabku yakin.
" Iya. . .seminggu itu, niatnya aku mau membeli kado buat Tee-chan. Tapi, aku nggak tau mau beliin apa. Jadi, aku berkeliling-keliling sendiri. Dan tanpa sadar, aku sampai di telaga ini. Dan aku pikir, lebih baik kasih hadiah telaga ini ke Tee-chan."
" Ne-chan. . .arigatou. . ."
" Kau mau bilang arigatou berapa kali Tee-chan? Sudah 2 kali kamu bilang itu. Lagian, aku juga punya keinginan."
" Nani?"
" Aku mau telaga ini jadi tempat yang istimewa bagiku dan bagi Tee-chan. Dan jika suatu hari nanti aku sekarat, aku mau telaga ini jadi tempat yang pertama dan terakhir aku kunjungi."
" Ssssstttttttttttt. . .jangan bilang begitu. Jangan pernah berkata seolah-olah Ne-chan akan mati. . .aku. . .aku nggak akan sanggup kalo kehilangan Ne-chan."
" Bercanda kok Tee-chan. Aku nggak akan ninggalin Tee-chan sendirian. Karena Tee-chan selalu ada dihatiku. Dan aku juga nggak akan sanggup ninggalin Tee-chan." Ucapnya sambil tersenyum pedih.
" Janji ya. . .Kalo Ne-chan melanggar janji, dapat hukuman lhoh!!!"
" Heh___hukuman? Memang apa hukumannya?"
" Kalo ingkar janji, Ne-chan harus menciumku dan mau menerima lamaranku. Jadi, kalo Ne-chan udah jadi istriku, Ne-chan nggak akan bisa ninggalin aku." Ucapku sambil menahan pedih.
" Janji. . ."
Setiap hari sehabis sekolah, kami menghabiskan waktu kami di telaga ini. Sampai suatu hari, kami memutuskan untuk berkemah di sini. Tapi, aku tak pernah menyadari kalo hal ini bisa berakibat fatal.
Sudah dua bulan berlalu semenjak Nana menemukan telaga ini. Jadi, untuk memperingati hari ini, kami memutuskan untuk berkemah 3 hari. Pada malam kedua berkemah, Nana pingsan di tenda karena asmanya kambuh. Hari itu, aku memutuskan untuk menjaga Nana di tendanya. Tanpa sadar, malam itu aku tertidur di tenda Nana. Waktu aku terbangun, Nana masih belum sadarkan diri. Karena khawatir, aku mendekati Nana dan meletakkan telapak tanganku di dahinya. Suhu badannya panas dan dia menggigil ringan. Lalu, dengan perasaan agak takut, aku membopong Nana ke rumah sakit. Waktu aku sampai di rumah sakit, keadaan Nana agak kritis. Kata dokter, jika aku terlambat sedikit saja, nyawa Nana tak kan tertolong. Setelah Nana diperiksa, aku berlari menuju rumah Nana. Aku bertemu dengan okasaan Nana. Dan aku pun menceritakan keadaan Nana di rumah sakit. Selama ini, kedua orang tua Nana nggak tau keadaan asma Nana. Terlebih lagi sikap Nana yang cuek dengan penyakitnya semakin membuat parah keadaannya. Lalu, aku dan orang tua Nana pergi ke rumah sakit. Dan aku pun menelepon Otousan untuk datang ke rumah sakit.
Sudah seminggu Nana terbaring di kamar rumah sakit. Dan seminggu pula ia tak sadarkan diri. Hari itu, aku disuruh pulang oleh orang tua Nana. Mereka bilang kalo aku sudah terlalu lama di rumah sakit. Mereka menyuruhku untuk istirahat di rumah. Waktu di rumah pun aku tidak bisa istirahat. Otousan juga lagi bekerja. Jadi, aku memutuskan untuk latihan nge-dance. Selama ini Otousan melarangku untuk nge-dance. Jadi, aku tidak begitu leluasa untuk berlatih. Tapi, akhir-akhir ini Otousan membolehkanku untuk nge-dance.
Ting Tong. . .Ting Tong. . .suara bel rumahku berbunyi. Tapi, aku pikir itu Otousan. Jadi, aku tidak membukakan pintu karena pintu tak terkunci. Tiba-tiba terdengar suara orang di belakangku.
" Tee-chan. . ." suaranya lemah.
Lalu aku menengok ke belakang dan melihat Nana yang pucat dan masih memakai baju rumah sakit. " Ne. . .Ne-chan ngapain disini? Kok masih pakai baju rumah sakit?" tanyaku panic.
" Tee-chan. . .ke telaga yukkk!!! Aku kangen ke sana. Kamu tadi lagi ngapain Tee-chan?"
" Ne-chan, kamu pucat. . .kamu juga masih lemas. Jadi, jangan pergi-pergi dulu. . ."
" Tapi aku mau pergi Tee-chan. Kalo Tee-chan nggak mau ngaterin aku, aku bisa pergi sendiri."
" Matte. . .baiklah." ucapku mengalah.
" Ayo berangkat."
Kami pun pergi ke telaga. Sebelum pergi, aku membawa cincin yang baru aku beli untuk Nana. Beberapa saat kemudian, kami sampai di telaga.
" Tee-chan. . .waktu di kamarmu tadi, kamu lagi ngapain?" Tanya Nana.
" Oh itu. . .aku lagi latihan nge-dance buat lomba."
" Enak ya bisa ikut lomba. Padahal seminggu lagi aku juga bakalan ikut seleksi lomba karate. Tapi, karena aku lagi sakit, aku nggak mungkin ikut. Eh Tee-chan. . .coba nge-dance donk!!! Aku pengen lihat."
Aku pun memenuhi keinginan Nana. " Ok selesai. . .bagus tidak?"
" Wow. . .keren ya. . .andai aku bisa kayak gitu. . ."
" Kamu bisa kok. . .asal mau latihan. He__he__"
" Eh Tee-chan. . .ada yang mau aku kasih ke kamu."
" Nani?"
" Hmm__sini tanganmu."
" Heh__buat apa?"
Plak__Plak__
" Itttaiiiiiiiii!!!. . ." teriakku.
" Makanya diem aja dan sini tanganmu."
" Ne-chan kejem banget. Padahal masih sakit, tapi tamparannya masih bertenaga." Ucapku sambil meletakkan tangan kiriku di kakinya yang bersila.
" Tee-chan tutup mata. Jangan ngintip. Nanti kalo ngintip, bakalan ada pukulan yang mendarat di muka Tee-chan."
" Heh__kasar amat. . .Iya aku tutup mata dech."
Aku nggak tau apa yang dilakukan Nana pada tanganku. Tapi, aku merasa kalo Nana melingkarkan sesuatu di tanganku.
" Nah__sekarang Tee-chan boleh buka matanya." Ucap Nana.
" Wow. . .arigatou Ne-chan." Ucapku sambil memandangi gelang pemberian Nana. " Ada inisial namanya juga ya Ne. . ."
" Hai. . .aku kasih inisial nama Qt. N dan T dari kata Ne-chan dan Tee-chan. Aku beli dua lhoh!!! Dengan gelang ini, Tee-chan akan selalu mengingatku."
" Hai. . .sekarang giliranku."
" Neh__apa yang mau Tee-chan lakukan?"
" Aku mau. . ." kataku sambil mendekatkan tubuhku ke Nana.
" Neh¬¬__Tee-chan jangan macam-macam ya. . .aku bakalan nonjok muka Tee-chan lagi lhoh. . .Kuhitung samp. . .", sebelum Nana menyelesaikan kata-katanya, aku menarik jari tangannya.
" Ne-chan. . .In the future. . .will you marry me?"
" Tee-chan. . ."
" Nani Ne?"
" Aku ingin bilang kalo aku telah kabur dari rumah sakit dan mungkin ini kesempatan terakhirku untuk mengunjungi telaga ini."
" Ha__ha__ha. . .Kau bercanda kan Ne-chan? Kau tidak sungguh-sungguh dengan ucapanmu barusan kan?"
" Aku tak bercanda Tee-chan. . . Aku sungguh-sungguh dengan ucapanku. Aku sudah tak sanggup melawan penyakitku ini lagi." Jawabnya.
" Jadi, Ne-chan bohong kalo Ne-chan nggak akan ninggalin aku?" teriakku marah.
" Aku nggak pernah bohong sama Tee-chan. . .Aku sungguh-sungguh berkata bahwa aku nggak akan ninggalin Tee-chan. Tapi bukan dalam bentuk diriku sekarang. Aku akan terus menemani Tee-chan di dalam hati Tee-chan."
" Bohong!!! Aku nggak percaya lagi sama Ne-chan." Teriakku sambil membalik badan.
Tiba-tiba, Nana memelukku dari belakang. " Tee-chan. . .gomen nee. . . aku udah ingkar janji. Dan aku akan mendapat hukuman dari ingkar janjiku ini."
Waktu Nana bilang kalo ia tidak bercanda, dengan spontan aku memeluknya. Dan aku menangis dihadapannya. " Tee-chan. . .gomen nee. . ." ucapnya padaku. Beberapa saat kemudian, dia pingsan dalam pelukanku. Dengan segera aku membawanya ke rumah sakit sambil berlari. Tapi, aku terlambat . . . Sesampainya di rumah sakit, Nana sudah sekarat. Tapi, ia tetap bertahan. Selama dya dirawat, aku selalu berada di rumah sakit. Saat itu, Nana sudah sadar dan ia sedang melihatku ngedance.
" Hey Tee-chan. . ." panggilnya.
" Nan desuka?"
" Kamu tadi melamarku kan? Aku ingin bilang kalo aku. . .menerima lamaranmu. Sekarang kamu masukin cincinnya di jariku."
Aku pun memasukkan cincin itu ke jari Nana. " Neh__selesai. . .sekarang Ne-chan sudah jadi tunanganku. . .dan di masa depan nanti. . ." ucapanku terputus karena tangisanku.
" Neh__Tee-chan, kenapa nangis?"
" Nandemonai. . ."
" Tee-chan. . .boleh aku minta sesuatu?"
" Nani?"
" Bisa nggak di masa depan nanti, kamu jadi dancer internasional atau kamu jadi guru nge-dance dan punya murid yang bisa jadi dancer internasional?"
" Hmmm__hai. . .aku akan penuhi keinginanmu." Ucapku masih menangis.
" Tee-chan jangan nangis lagi donk. . ."
" Aku nggak nangis kok. . ." jawabku sambil menyeka air mataku. " Neh__Ne-chan. . .kamu istirahat dulu. Kamu pasti capek. Besok aku ke sini lagi. Ok???"
" Hai. . .dokter Tee-chan." Ucapnya sambil tertawa pedih."
Setelah Nana tertidur, aku pun pulang ke rumah. Paginya, orang tua Nana menelponku dan bilang kalo Nana ingin bicara denganku.
" Ne-chan. . .nani?" tanyaku setelah masuk ke kamarnya.
" Tee-chan. . .gomen nee. . .di masa depan nanti. . .aku. . .aku nggak mungkin menikah sama Tee-chan." Ucapnya sedih.
" Kenapa? Kenapa Ne-chan bilang kayak gitu?"
" Tee-chan. . .tolong wujutin impianku yang kugantungkan padamu ya. Dan simpan baik-baik gelang itu."
" Ne-chan. . .jangan bicara lagi. Aku nggak mau denger!!!" teriakku.
" Tee-chan. . .arigatou buat semuanya. . .arigatou. . ." ucapnya sambil menutup kedua mata.
" Ne. . .kamu baik-baik aja kan? Ne. . .Ne-chan?" teriakku sambil mengguncang-guncang tubuhnya. " Ne-chan. . . " teriakku lagi.
Dokter segera memeriksa keadaan Nana. Tapi, sudah terlambat. Keesokan harinya, Nana dimakamkan. Nana masih mengenakan cincin yang kuberikan. Disaat-saat terakhirnya, aku berjanji akan mengabulkan semua keinginannya.
………………………………………………………………………………………
" Tee-chan. . .sini. . ." panggil Otousan.
" Nande Otousan?"
" Neh__Tee-chan. . .Qt harus kembali ke Nagasaki. . .ayah dipindah tugaskan lagi."
" Nggak mau pulang. . .aku mau disini aja. . ."
" Tapi Qt harus pulang Tee-chan."
" Aku mau disini aja. Aku juga bisa hidup sendiri disini. . ."
" Otousan tau kok. . .Tee-chan nggak mau jauh-jauh dari Nana ya?"
" Hai. . .Otousan ngerti kan?"
" Otousan bingung. . .Otousan nggak mungkin pulang tanpa Tee-chan."
" Tee-chan bisa hidup sendiri disini kok. Otousan tenang aja. . ."
" Hmmm__baiklah. Otousan setuju. Tapi, selama disini, kamu harus menjadi guru dance di sanggar baru Otousan ya. . ."
" Heh__sejak kapan?"
" Himitsu__mau kan? Tiap bulan, gajinya Otousan transfer. Gimana?"
" Yosh__Yosh__"
Lalu, keesokan harinya Otousan pulang ke Nagasaki dan aku tetap tinggal di Tokyo. Selama disini, aku harus bekerja di sanggar Otousan. Sudah 3 bulan semenjak Nana pergi. Dan sekarang aku sudah naik kelas 6. Saat di sekolah, hari-hariku sepi. Tapi, sepulang sekolah aku masih tetap pergi ke telaga. Dan aku pun berhasil menjuarai lomba dance pertamaku.
Kini, aku sudah berumur 18 tahun. Dan sekarang aku sudah punya band. Dan aku juga sudah punya murid dance yang hebat. Aku nggak tau kalo muridku itu juga punya kakak yang mirip Nana.
Mungkin. . .harapan Nana yang masih tersisa padaku. . .akan aku wujutkan dalam diri Ryo dan dalam band NEWS. . .
………………………………………………………………………………………
Back To Future
" Hufffttt___capeknya. . .baru juga tadi jam 4 pagi bisa tidur. Masak jam 7 udah bangun sich. . .Harus siapin masakan lagi." Keluhku dalam hati.
Saat aku turun menuju ke dapur, aku mendengar suara berisik di dapur.
" Hai Luna. . ." ucap Massu padaku.
" Heh__kok bisa ada disini?"
" Aku yang panggil kok. . ." sahut Ryo di belakangku.
" Lalu, kalian lagi ngapain?"
" Aku dan kak Massu lagi masak buat sarapan. Abisnya kak Luna nggak bangun-bangun sich. Aku kira mati. Ha-ha-ha. . ." ucap Ryo sambil tertawa lebar. Massu juga ikut-ikutan tertawa lagi.
" Kalo gitu, masak yang bener ya. . .he-he-he."
" Luna. . .mandi dulu gih. . .nanti baru makan." Kata Massu.
" Iya. . .bau nie. . .cepetan mandi gih kak Luna." Ucap Ryo mendukung.
" Huhh__kalian berdua kompak ya kalo lagi menghina aku. Ok. . .aku mandi dulu dech."
Selesai mandi, aku segera memakai seragamku. Lalu, turun menuju ke meja makan.
" Wow__kayaknya enak." Ucapku ketika melihat makanan terpapar di meja makan.
" Iya donk. . .Ini kan buatanku dan kak Massu. Pastilah oishii. . ." ucap Ryo.
" Ayo makan. . .Aku udah laper nie. . ." ajak Massu.
" Ittadakimasu. . ." ucap kami bersamaan.
Selesai makan, aku segera ke kamar untuk mempersiapkan buku pelajaranku. Setelah itu, aku berangkat ke sekolah. Aku menitipkan Ryo pada Massu lagi. Waktu sampai di gerbang sekolah, lagi-lagi aku melihat Tegoshi bersandar ditembok gapura.
" Hey "Nona Hipoksia", kamu terlambat." Ucapnya padaku saat aku mendekat.
" Apa kau bilang?"
" Aku bilang kalo kamu terlambat!"
" Siapa bilang kalo aku terlambat? Ini kan masih jam setengah 9. . ." jawabku sambil melihat jam tanganku.
" Kau tau kalo kau sudah membuatku menunggumu lama. . ."
" Siapa yang suruh kamu untuk menungguku? Lagian ngapain lagi kamu nungguin aku kayak gitu?"
" Uhh__kamu itu selain hipoksia ternyata cerewet juga ya. Nih aku mau berikan ini. . ." ucapnya sambil menyodorkan kado padaku.
" Apaan nih?"
" Buka aja. . ."
Aku pun membuka bungkusan itu dan melihat sebuah gelang. " Wow__ini buatku?"
" Menurutmu buat siapa lagi. . .Itu aku berikan sebagai ucapan terima kasih padamu."
" Heh__ucapan terima kasih? Kayaknya aku nggak nglakuin apa-apa buat kamu dech!!"
" Dasar!! Aku ngasih itu buat ucapan makasih karena kamu tadi malam udah nemenin aku jalan-jalan."
" Oh. . .Itu. . ."
" Sini. . .aku pakaiin." Ucapnya sambil menarik tanganku.
" Arigatou. . .Tego. . ."
Kami pun masuk ke sekolah bersama-sama. Di sekolah, sudah tersebar gossip kalo aku dan Tego berpacaran. Aku selalu sewot kalo ada orang yang bilang kayak gitu. Ehh__malah Tego lebih sering senyam-senyum kalo dibilang kayak gitu.
Kringgggggggggg!!!! Bel pulang sekolah berbunyi.
" Hey Luna, aku maen ke rumahmu ya. . ." ucap Tego gembira.
" Heh???"
" Nande?? Nggak boleh ya???"
" Iie. . .bukan nggak boleh. . .Cuma kaget aja. . ."
" Jadi???"
" Hmmm__ya udah. . ."
Kami pun pulang ke rumahku. Saat sampai di rumah, aku melihat Massu dan Ryo sedang nge-dance. Saat Massu melihatku bersama Tegoshi, dya pun langsung berlari menuju ke arah kami.
" Okaeri. . ." ucap Massu pada kami.
" Massu. . .kok ada disini?" Tanya Tego.
" Kak Massu memang sering ke sini. . .dia kan guru danceku." Ucap Ryo menyela. " Kak, dia siapa?" Tanya Ryo ketus.
" Ryo. . .dia ini vokalis bandku. Namanya Tegoshi Yuuya." Jelas Massu.
" Oh begitu ya. . .Terus, Tego ini siapanya kak Luna???"
" Kalo Tego, temen sekolahku. Dia mau maen ke sini." Jelasku.
" Jadi, namamu Ryosuuke ya. . .suka nge-dance juga ya. . ."
" Iya. . ." jawab Ryo ketus.
" Ryo-chan. . .jangan begitu. . .nggak sopan." Nasihat Massu.
" Ayo kak. . .latihan lagi." Ucap Ryo sambil menarik tangan Massu.
" Adikmu nggak suka sama aku ya???" Tanya Tego kecewa.
" Nggak kok. . .tapi, Ryo memang nggak bisa langsung akrab sama orang yang baru dia kenal."
" Oh begitu ya. . ."
" Eh, aku ganti baju dulu ya. . ."
" Ok. . .aku tunggu di sini."
Aku pun berjalan melewati kamar Ryo. Di sana terdengar suara Massu yang sedang bercerita dengan Ryo.
" Ryo, kamu nggak boleh kayak gitu lagi. Nggak sopan." Ucap Massu pada Ryo.
" Tapi, aku nggak suka sama temennya kak Luna. Aku nggak suka kalo kak Luna deket sama cowok." Ucap Ryo setengah berteriak.
" Emang kenapa kalo kak Luna punya temen cowok kenapa? Lagian kak Massu kan juga temen kak Luna. Berarti kamu nggak nganggep kak Massu cowok ya." Ucap Massu sambil tertawa.
" Lihat aja. . .kak Luna baru punya temen cowok kayak Tego aja udah bisa ninggalin aku di rumah sendirian sampai jam 4 pagi." Jelas Ryo sedih.
" Hey. . .memang kak Massu nggak pernah ngajakin kak Luna keluar malem?"
" Itu kan beda. . .Kak Massu ngajakin kak Luna karena waktu itu aku sedang tersesat di Shibuya."
" Apa bedanya Ryo. . .toh waktu kamu di Shibuya juga kamu sendirian. . Iya kan?"
" Tapi, tapi kak Massu beda. Aku lebih suka kak Massu daripada si Tego."
" Ryo-chan, kamu nggak boleh bilang begitu kalo kamu belum kenal sama seseorang. Apa bedanya kak Massu sama kak Tego. Kami sama kok. Tapi, kalo kamu sudah mengenal kami satu persatu." Jelas Massu.
" Tapi kan___"
" Ssssssssssttttttttttttt!!!! Jangan bicara lagi." Sela Massu." Lebih baik sekarang, kamu mencoba lebih deket sama kak Tego. Bentar lagi, kak Massu harus pulang. Besok kak Massu akan jemputmu. Besok kakak ajakin pergi. Gimana?"
" Aku mau kok. Kalo kak Massu yang bilang pasti itu bagus."
" Ok. . .jadi anak yang baik ya. . .jangan bikin repot. Kakak harus pulang sekarang. Mata ashita!!!"
" Ayo. . .ayo. . .aku antar ke pintu depan."
Aku tidak sadar bahwa Massu telah menarik pintunya. Dan aku pun terdorong ke dalam. Dan tanpa sadar, aku terhantam oleh dadanya Massu. Dan dengan segera, Massu menolongku.
" Luna, kamu baik-baik saja kan? Kamu ngapain di depan pintu?" Tanya Massu.
" Aku baik-baik saja kok. Aku tadi kebetulan lewat."
" Oh begitu ya. . .Tegoshi mana?"
" Oh, dia menunggu di ruang tamu." Jawabku.
" Ryo-chan. . ." panggil Massu.
" Nande?"
" Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan. Seperti yang kak Massu bilang tadi." Jelas Massu.
" Hai. Ayo aku antar ke pintu depan." Ucap Ryo.
" Luna, aku pulang dulu ya. Cepet ganti baju. . .baumu keringat semua." Ucap Massu sambil tersenyum.
" Arigatou ya Massu. . .Hati-hati. . .gomen, aku nggak bisa nganter ke depan."
" Nggak pa-pa kok. Mata Ashita. . ."
" Kok buru-buru pulang sich Massu?" Tanya Tegoshi ketika melihat Massu keluar dari pintu rumah.
" Iya. . .aku harus pulang cepat. Kasihan Yui sendirian di rumah. Aku sudah sering meninggalkannya sendirian. Lagian dia agak sakit." Jelas Massu.
" Oh begitu ya. . .salam ya buat Yui. Semoga cepat sembuh."
" Baik. Akan aku sampaikan. Aku pulang dulu."
" Iya. . .hati-hati ya. . ." nasihat Tegoshi.
" Ryo-chan, ingat pesanku tadi ya. . .besok aku jemput kamu di rumah." Ucap Massu pada Ryo yang mengantarnya.
" Aku tunggu kak Massu. Aku akan mencobanya. . .Mata Ashita. . ." ucap Ryo sembari melambaikan kedua tangannya.
Setelah ganti baju, aku pun bergegas turun dan saat itu aku melihat Tegoshi dan Ryo bermain Nintendowi.
" Wah__wah__lagi asyik ya." Seruku.
" Iya donk__daripada bengong." Jawab Ryo.
" Kalian maen dulu ya. . .aku akan masak. Ini sudah waktunya makan malam." Ucapku.
" Aku bantuin ya kak______" teriak Ryo tiba-tiba. " Lagian aku ingin masak lagi. Kan tadi pagi aku sama kak Massu masaknya kurang bagus." Seru Ryo.
" Aku bantu juga. Minggu lalu aku baru menemukan resep masakan baru. Gimana?" Sela Tegoshi.
" Iya__Iya__makin banyak orang makin seru. Itu yang kak Massu bilang." Jawab Ryo.
Kami pun berkumpul di dapur. Layaknya keluarga bahagia, kami memasak bersama. Karena kelelahan, Ryo tertidur di pojok dapur.
" Adikmu sangat akrab sama Massu ya___" ucap Tegoshi memulai pembicaraan.
" Iya__dibandingkan diriku, Ryo malah lebih senang berada di dekat Massu. Entah apa alasannya, tapi aku merasa kalo ada Massu, Ryo lebih terkendali. Semenjak Ryo bertemu dengan Massu, sikapnya langsung berubah. Dulu, ia anak yang pendiam, nggak mau berteman sama orang lain. Yah__mungkin karena kami sering ditinggal orang tua kami. Tapi, Massu dapat merubah sikap Ryo menjadi seperti sekarang." Jelasku panjang lebar.
" Begitu ya__Jadi, Massu juga sering datang ke sini donk?" tanyanya sambil memotong cabe.
" Jika dia tidak kuliah, dia akan datang ke sini untuk bermain dengan Ryo. Terkadang, saat aku sampai di rumah, aku melihat meeka berdua tertidur di tempat bermain Nintendo." Jawabku. " Eh__kok aku curhat ya___" ucapku tiba-tiba sambil tertawa.
" Apa salahnya curhat__tapi, Ryo sangat mengasyikkan. Itupun jika kamu sudah mengenalnya." Aku Tegoshi.
" Eh Tegoshi, boleh aku tanya sesuatu?" pintaku.
" Nande?" jawabnya sambil menggoreng.
" Kenapa kau selalu memakai cincin di jari telunjukmu?"
" Oh__ini__karena ini pemberian teman kecilku."
" Memang temanmu dimana?"
" Aku__aku tak tahu dimana dia sekarang__tapi, aku sangat berharap dia kembali. Sudah terlalu lama aku menunggunya kembali."
" Apa__apa kau menyukainya?"
" Hmmmm__aku tidak tahu_perasaanku tak menentu semenjak dia pergi. Padahal dia berjanji akan kembali."
" Kalo kamu masih memakai cincin darinya, berarti kamu mencintai dia__" ucapku sambil menahan sedih. Hatiku terlalu sakit untuk mendengar pengakuannya.
" Aku memang pernah suka padanya__dia mengajarkanku banyak hal. Dia sangat berharga buatku. Tapi, kalo kamu tanya perasaanku yang sekarang, perasaanku sangat tidak bisa ditebak__bahkan oleh diriku sendiri."
" Tegoshi__bisakah kau meneruskan ini sendiri__mataku pedih karena memotong bawang merah ini." Ucapku sambil menangis sedih.
" Kamu nggak pa-pa kan, Luna?" tanyanya khawatir.
" Aku nggak pa-pa kok__kamu terusin sendiri aja ya_" ucapku sambil berlari keluar dapur.
Tanpa sadar, aku menangis tersedu-sedu di dalam kamarku. Aku tak tahu apa yang aku tangiskan. Tetapi, saat mendengar Tegoshi mengatakan dia suka dengan teman kecilnya, hatiku sangat sakit. Bahkan aku tak bisa menghentikan tangisanku ini. Sudah 10 menit aku menangis di kamarku.
" Luna__masakannya sudah siap__ayo makan." Teriak Tegoshi.
" Iya__aku akan turun." Jawabku sambil menyeka air mataku.
" Luna, kok matamu sebam semua? Kamu habis nangis ya?" Tanya Tegoshi ketika melihatku berjalan menuju meja makan.
" Nggak kok__nggak pa-pa__ayo makan_" ajakku.
" Aku panggil Ryo dulu ya__" ucapnya.
Kini, kami bertiga makan bersama. Dengan wajah yang masih mengantuk, Ryo menyantap makanannya dengan lahap. Dan aku pun makan dengan wajah yang lesu karena lelah. Beberapa saat kemudian, kami selesai makan. Aku dan Tegoshi mencuci piring bersama, sedangkan Ryo langsung tidur di kamarnya.
" Hmm__Tegoshi. . ." kataku memulai pembicaraan.
" Nande?" balasnya sambil membilas piring.
" Yui itu siapa? Gomen aku tidak bermaksud ikut campur, tapi aku tadi mendengar Massu mengucapkan nama itu." Jelasku.
" Ohh__Yui. . .dia itu cewek yang tinggal satu apartemen dengan Massu." Jawabnya santai.
" Maksudmu Massu sudah menikah?" tanyaku penasaran.
" Bukan__Punya pacar saja nggak, masak udah nikah sich." Jawabnya sambil tertawa.
" Lalu? Aku bingung__bisa jelasin?"
" Dulu saat pulang dari kuliah malam, Massu bertemu dengan Yui yang sedang menangis sendirian. Waktu itu, tubuh Yui dipenuhi oleh luka. Dan dia membawa koper. Karena kasihan, Massu mengajaknya ke apartemennya. Dan dia mengijinkan Yui tinggal di apartemennya sampai luka-lukanya sembuh. Tapi, karena Yui tidak punya tempat tinggal makanya sampai sekarang Yui masih tinggal di apartemen Massu. Massu sangat sayang dengan Yui. Yah__walaupun kau tahu bahwa Massu memang sayang pada siapapun." Jelas Tegoshi.
" Jadi, sampai sekarang Yui tinggal bareng sama Massu ya?
" Hai__sudah selesai nih!!! Lagian udah malam, aku harus pulang." Tukasnya.
" Iya__arigatou ya. . .dah mau bantuin masak n cuci piring." Ucapku sambil nyengir lebar.
" Iya__makasih juga udah dibolehin main__besok ikut aku ya. . .jangan Tanya mau kemana lho! Pokoknya ikut aja. . .Ok???"
" Iya dech__aku mau kok. . .Sana pulang!!" ucapku sambil melambaikan tangan.
……………………………………………………………………………………….
Ting__Tong__Ting__Tong!!! Bunyi bel rumah. Aku pun bergegas membukakan pintu.
" Ohayou___" terdengar suara seseorang.
" Massu___" teriakku. " Ohayou__kok pagi-pagi udah ke sini?" tanyaku.
" Aku ada janji dengan Ryo-chan__aku mau mengajaknya pergi. Boleh kan?"
" Boleh aja kok__aku malah senang kalo Ryo bisa pergi-pergi lagi. Habisnya, semenjak Ryo hilang di Shibuya dulu, dia nggak pernah lagi keluar rumah." Jelasku.
" Kak Massu____aku sudah siap nie__" terdengar teriakan panjang dari belakangku.
" Ryo__nggak usah teriak bisa nggak sich?" nasihatku.
" Nggak bisa tuwh___" ucap Ryo dengan nada meledek.
" Eh Ryo-chan__jangan gitu. Nggak sopan!!!" nasihat Massu.
" Abisnya aku sebel!!! Masak tadi malam aku dibiarin tidur di pojok dapur!!!" gerutu Ryo sebel.
" Abisnya kamu berat__jadi aku nggak kuat." Jawabku nyengir.
" Udah ahhh__aku lagi malas. Ayo kak Massu__pergi aja!!!" ajak Ryo.
" Luna, kami pergi dulu ya." Pamit Massu.
Setelah itu, aku bersiap-siap berangkat ke sekolah. Seperti hari-hari kemarin, Tego menungguku di depan gerbang sekolah.
" Kenapa kau selalu di depan situ?" tanyaku sinis.
" Habisnya kau nggak dateng-dateng sich. Aku kan nggak sabar."
" Nggak sabar buat apa?" tanyaku penasaran.
" Nggak sabar buat jalan-jalan sama kamu."
" Eh__Qt nggak akan bolos kan?" tanyaku.
" Bolos aja__kalo masalah ngejar materi-materi ujian, aku bakal minta salah satu personil NEWS untuk ngajarin Qt!!!" ucapnya sambil menarik tanganku.
" Maksudmu Shigeaki Kato?"
" Eh__kok tahu? Padahal kan aku nggak pernah cerita apapun tentang NEWS padamu?"
" Aku tahu dari Massu kok. Dia bilang kalo ada satu personil NEWS yang pandai dalam bermusik maupun pelajaran. Dan satu hal lagi, kalo Shige itu juga se-angkatan dengan Qt. Jadi, aku pikir mungkin yang kau maksud itu dia." Jelasku.
Kami pun berkeliling kota seharian. Waktu aku sampai di rumah, Ryo belum datang. Karena khawatir, aku pun menelpon Massu. Dan Massu bilang kalo Ryo ingin menginap di apartemennya.
………………………………………………………………………………………..
Keesokan harinya, aku dijemput Tegoshi di depan rumahku. Dia mengajakku berangkat bersama ke sekolah. Hari ini, akan ada murid pindahan dari Osaka. Dan dia satu kelas denganku.
" Hajimemashite__Erika Sawajiri desu_dari Osaka__douze yoroshiku onegaishimasu__" salamnya pada teman sekelas.
" Sawajiri, kamu duduk di sebelahnya Luna ya__" ucap Jasmin sensei.
" Hai__arigatou Jasmin sensei!!! Balas Erika.
" Hello__Luna desu__yoroshiku!!!" ucapku pada Erika.
" Erika desu__" ucapnya sambil tersenyum.
Karena Erika baru pindah dan dia belum mendapat buku materi, selama pelajaran berlangsung, aku berbagi buku dengan Erika. Dia murid yang cantik__juga cerdas__
Kringggggggggggggggggggggggg!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Bel istirahat berdering.
" Luna__istirahat ini kamu mau ke mana?" tanyanya.
" Aku nggak pergi ke mana-mana kok__aku mau di kelas. Kamu?"
" Aku juga ingin di kelas aja__" ucapnya sembari tersenyum.
Kami pun berbincang-bincang di dalam kelas. Sedangkan, teman-teman yang lain ke kantin. Tiba-tiba, terdengar suara dari pintu kelasku.
" Luna___ke atap yukkkk!!!" teriaknya di belakang pintu kelasku.
" Yuu-chan???" tukas Erika tiba-tiba.
" Eh__Yuu-chan?" tanyaku bingung.
Ketika mendengar suara Erika, Tegoshi segera masuk dan menghampiri kami.
" Yuu-chan___" teriak Erika sambil memeluk Tegoshi.
" E__Eri___" ucap tegoshi terbata-bata.
BERSAMBUNG . . .